056 St. Stefanus Karanglo: Misa Lingkungan “Teladanilah Santo Stefanus”

Tahun 2025 ini Lingkungan Santo Stefanus Karanglo mendapatkan giliran misa lingkungan. Tepatnya dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2025, hari Selasa. Bertempat di kediaman Heribertus Setiono. Tepat pukul 19.05 WIB misa lingkungan dimulai, dipersembahkan oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr dengan prodiakon Veronika Suryani. Cuaca malam itu cukup cerah, meskipun pada sore hari sempat hujan gerimis. 

Misa lingkungan dihadiri oleh 80 umat, dibuka dengan Lagu Kristus Bangkit yang dibawakan oleh kelompok koor kebanggaan Santo Stefanus dengan seragam barunya. Bacaan pertama dibacakan oleh Kevin diambil dari Kisah Para Rasul yang menceritakan tentang Stefanus dibunuh. Bagaimana dia tidak gentar menjadi pengikut Kristus, dibunuh saat menghadapi ancaman dan lemparan batu. Bacaan Injil diambil dari Yohanes ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.’ Romo Dadang mengungkapkan bahwa ini adalah kedua kalinya Romo Dadang mempersembahkan Misa di lingkungan Santo Stefanus Karanglo. Dalam homilinya beliau bercerita tentang seseorang yang ingin masuk ke dalam gereja Katolik membawa kekecewaanya terhadap iman yang lain. Bagaimana dia dengan segala pengetahuannya tentang Katolik mengungkapkan keinginannya masuk ke Katolik, karena Katolik dengan Suksesi Apostolik yang jelas dan ingin menerima komuni. Namun, Romo menyadari bahwa dia mencari sesuatu dengan segala pengetahuannya tapi lupa menyadari esensi Iman Katolik itu sendiri. Beriman secara katolik itu relasional, yaitu relasi pribadi dengan Tuhan. Pengetahuan Katolik yang banyak tidak bisa menjamin iman kita. Romo juga mencontohkan Kisah Santo Agustinus yang berusaha memecahkan misteri Allah. Ia berjalan di sepanjang pantai, Ia melihat seorang anak kecil yang mencedok air laut untuk dipindahkan ke dalam sebuah lubang kecil di pantai. ‘Apa yang kamu lakukan?’ tanya Agustinus. ‘Saya ingin memindahkan air samudera ini ke dalam lubangku itu!’ jawab anak itu. ‘hal itu jelas tidak mungkin!’ kata Agustinus, jawab anak itu, ‘Lubang ini tidak bisa menampung air samudera yang luas itu, seperti juga otak manusia tidak bisa mengerti misteri Allah yang tidak terbatas itu!’ Kemudian anak itu menghilang. Romo menegaskan kembali bahwa relasi kita pribadi dengan Tuhan itu penting sebagai bekal hidup kita, relasi itu tergambar dalam doa yang diajarkan Yesus Kristus yaitu Bapa Kami. Allah tidak pernah jauh, kita menyebutnya Imanuel ‘Allah Beserta Kita’. Dalam bahasa Yohanes ‘Makan, Minum Roti’ adalah kita percaya kepada Yesus. Yesus adalah bekal hidup kita. Tangguhlah dalam membangun relasi dengan Tuhanmu. Relasi yang tangguh sudah dicontohkan dalam bacaan pertama yaitu oleh Santo Stefanus yang menjadi Santo Pelindung di Lingkungan. Santo Stefanus yang berani mati untuk imannya terhadap Yesus Kristus. Lagu Salam Maria menjadi lagu penutup serasa pas menutup misa lingkungan di Bulan Mei, sebagai bulan Maria.

Sesi foto bersama Romo dilakukan setelah misa selesai dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pius Haryadi bertanya tentang bagaimana penggunaan lagu persembahan dan lagu lainnya yang pas dalam mengiringi liturgi. Misa Lingkungan juga tidak lepas dari makan bersama, yang disiapkan oleh ibu-ibu di Lingkungan Santo Stefanus Karanglo dengan diawali dengan doa makan dipimpin oleh FX. Sidik Margono. Misa lingkungan diakhiri dengan mendengarkan Romo Dadang yang berbagi cerita saat mengunjungi Vatikan bersamaan dengan Wafatnya Paus Fransiskus. Tema misa ini menjadi bahan renungan kembali, mengapa lingkungan memilih menjadikan Santo Stefanus sebagai Santo Pelindung. Semoga dengan teladan Santo Stefanus sebagai pelindung lingkungan dapat menjadi motivasi umat di Lingkugan Santo Stefanus untuk menjadi Stefanus-Stefanus kecil dalam memperjuangkan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan: Tulisan dan foto dikirim oleh Wahyuningsih

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *