Pada hari Kamis, 5 Juni 2025, umat lingkungan Santo Andreas mengadakan pertemuan rutin lingkungan untuk mendalami Katakese Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Acara berlangsung di rumah Anselmus Monggo mulai pukul 19.00 WIB. Sesuai dengan panduan, pertemuan pertama ini mengangkat tema “Mengenal Pernak-Pernik dan Dinamika HUT Keuskupan Agung Semarang ke-85”. Acara ini dihadiri sekitar 30 umat. Kegiatan ini dipimpin oleh Andy Rudhito.

Salah satu hal yang dibahas dan ternyata menarik perhatian umat adalah terkait logo HUT ke-85. Dari logo tersebut, muncul 2 hal bahasan. Pertama, terkait dengan Burung Pelikan. Setelah didalami, terdapat sebuah cerita bahwa ketika anaknya lapar, burung ini sengaja mematuk dirinya agar mengeluarkan darah sehingga anak-anaknya dapat minum. Hal ini selanjutnya dihubungkan dengan konsep donor darah. Di satu sisi kita memberikan darah untuk kehidupan orang lain, tetapi di sisi lain, dengan mendonorkan darah, di dalam darah kita terjadi regenerasi sel-sel darah baru yang artinya juga memberi kita kehidupan. Kedua, terkait dengan warna abu-abu sebagai simbol kebijaksanaan. Refleksi dari umat memaknai bau-abu ini sebagai warna di antara hitam dan putih. Di dalam hidup, terkadang kita tidak bisa melihat segala sesuatu sebagai hitam dan putih, benar dan salah. Ada hal-hal yang mungkin kita perlu luwes untuk melihat konteks lebih luas sehingga kita mungkin melihatnya sebagai abu-abu, kebijaksanaan.

Mengakhiri rangkaian doa Rosario, umat yang hadir bersama-sama menikmati hidangan sederhana berupa makanan ringan yang telah dengan penuh kasih dipersiapkan oleh tuan rumah. Suasana keakraban semakin terasa hangat ketika percakapan ringan mengalir, mulai dari saling bertukar kabar hingga membicarakan rencana ziarah yang akan datang. Kebersamaan ini tidak hanya menambah rasa syukur, tetapi juga mempererat ikatan persaudaraan antarumat dalam Lingkungan Santo Andreas.
Setelah suasana santai dan penuh canda tawa itu, sebagian umat memilih untuk tidak langsung kembali ke rumah masing-masing. Mereka melanjutkan kebersamaan dengan berkumpul di rumah Bapak Ansel untuk menonton bareng pertandingan tim nasional. Momen ini semakin menambah warna dalam persaudaraan umat, karena selain berdoa bersama, mereka juga dapat merasakan sukacita dalam kebersamaan yang sederhana, penuh keceriaan, dan membangun rasa persaudaraan yang semakin erat.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Febi Sanjaya



