041 St. Bartolomeus Brintikan: Ibadat Lingkungan Bulan Februari

Umat Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan menyelenggarakan Ibadat Rutin Lingkungan pada Bulan Februari 2026 pada hari Minggu, 15 Februari 2026 pukul 19.00 WIB di kediaman Victorianus Harjaka, di Dusun Brintikan RT.03 Tirtomartani Kalasan Sleman, dipimpin prodiakon FX. Risang Baskara dan partisipasi 20 umat.

”Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Hari ini kita berkumpul di tengah suasana bulan Februari yang penuh makna. Beberapa hari ke depan, tepatnya Rabu, 18 Februari 2026, kita akan memasuki Hari Rabu Abu, pintu gerbang masa Prapaskah”, demikian Risang dalam pengantarnya. Bacaan pertama dari kitab I Raja-raja 12:26-32; 13:33-34, dilanjutkan Mazmur Tanggapan dari kitab Mazmur 106:6-7a, 19-20, 21-22 dengan refrain : Ingatlah akan aku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat. Sedangkan Bacaan Injil malam itu diambil dari Markus 8:1-10.

Dalam Bacaan Pertama, kita melihat Raja Yerobeam. Masalah utama Yerobeam bukan hanya ia membuat patung lembu emas, tetapi ketakutannya. Ia takut kehilangan kekuasaan, takut rakyatnya meninggalkannya jika mereka pergi beribadah ke Yerusalem. Karena takut, ia menciptakan “tuhan-tuhan palsu” agar rakyatnya tetap di bawah kendalinya. Mungkin kita tidak membuat patung emas di rumah. Namun, jangan-jangan kita punya “berhala” lain. Berhala adalah apa pun yang kita nomorsatukan melebihi Tuhan karena kita merasa takut atau tidak aman. • Ada berhala “kesibukan”—kita merasa jika tidak bekerja 24 jam, hidup kita akan hancur, sampai lupa berdoa dan melayani. • Ada berhala “gengsi”—kita takut dianggap remeh oleh tetangga, sehingga kita sibuk mengejar harta dan lupa berbagi. • Ada berhala “gadget”—yang membuat kita lebih asyik menatap layar daripada menatap wajah pasangan atau anak kita yang butuh perhatian.

Menjelang Rabu Abu, kita diajak bertanya: “Apa ketakutan terbesarku yang membuatku menjauh dari Tuhan?” Mari kita berani “berbalik” dari berhala-berhala itu. Berbeda dengan Yerobeam yang sibuk memikirkan keselamatannya sendiri, dalam Injil kita melihat Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan. Ia melihat 4.000 orang yang lapar. Bayangkan, mereka sudah tiga hari mengikuti Yesus tanpa makan! Para murid Yesus, sama seperti kita, seringkali berpikir logis dan “pelit”. Mereka bertanya, “Bagaimana mungkin memberi makan orang sebanyak ini di tempat sunyi?”

Kita pun sering merasa begitu: “Duh Gusti, kebutuhan keluarga saya saja banyak, bagaimana saya bisa membantu tetangga yang sakit?” atau “Waktu saya sudah habis untuk kerja, mana mungkin saya sempat ikut kegiatan lingkungan?” Namun, perhatikan pertanyaan Yesus. Ia tidak bertanya, “Berapa banyak uang di tabunganmu?” atau “Seberapa suci hidupmu?” Ia hanya bertanya: “Berapa roti ada padamu?” Tuhan hanya minta apa yang kita punya saat ini. Murid-murid punya tujuh roti. Sedikit? Ya, sangat sedikit untuk 4.000 orang. Tetapi di tangan Yesus, yang sedikit itu menjadi berkat yang melimpah. Inilah rahasia Kerajaan Allah: Tuhan tidak butuh jumlah yang banyak, Ia butuh kerelaan kita untuk melepaskan apa yang kita genggam.

Setelah doa umat, doa penutup, dan doa berkat selesai, ibadat ditutup dengan menyanyikan lagu pujian. Sembari mendengarkan beberapa pengumuman dan informasi yang disampaikan oleh Ketua Lingkungan, Hilarius Yudi Lasyanto sebelum pulang umat dipersilakan menikmati minum dan makanan ringan yang disediakan tuan rumah.

Catatan : Ditulis oleh FX. Risang Baskara, Foto oleh Hilarius Yudi Lasyanto

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *