310 St. Antonius Padua Berbah: Doa “Kamisan” Lingkungan – Percaya Kepada Tuhan

Doa “Kamisan” Lingkungan Santo Antonius Padua Berbah pada Kamis, 12 Februari 2026 pukul 19.00 – 20.30 WIB bertempat di kediaman Eduardus Rudi Wibowo (Rudi) dan Margaretha Nova Ardianti (Nova), Jabung RT 006/RW 002 Kalitirto, Berbah, Sleman. Doa “Kamisan” dihadiri sebanyak 31 orang yang terdiri dari enam anak- anak, dua OMK, dan 23 orang tua. Doa “Kamisan” dipandu oleh Yohanes De Britto Ferri Setiawan (Ferri).

Doa “Kamisan” diawali dengan menyanyikan lagu pembuka Puji Syukur 319 “Wahai, Saudara”, pembukaan, pengantar, tobat, doa pembuka, bacaan Injil Markus 7 : 24 – 30, renungan tentang seorang perempuan yang anaknya kerasukan setan, namun ibu itu percaya Tuhan mampu menyembuhkannya, hal lainnya juga dijelaskan bahwa Yesus yang menjauh dan iman yang mencari berarti Tuhan ingin melihat usaha kita, Iman tidak menyerah hal ini ditunjukkan dengan setan sudah keluar dari anak itu berarti iman yang tidak terlihat namun perannya besar di kehidupan, tidak ada keterbatasan hal ini menunjukkan memandang orang sawang sinawang, ujian yang terasa menyakitkan dimana perempuan itu memohon untuk mengusir setan kepada Yesus dan hal tersebut menunjukkan kerendahan hati yang menggerakkan hati Tuhan bahwa iman yang bekerja tanpa tanpa memegang Tuhan.

Dalam sesi sharing, Agustina Herlina Yustanti (Herlin) menyampaikan orang tua mengutamakan anak – anak, mengorbankan harga diri, iman yang menyelamatkan ditengah pekerjaan maupun tugas pelayanan selalu mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang sudah mengirimkan ibu bagi kita, Theresia Suswati (Usi) juga mengungkapkan, apakah mudah kecewa saat doa belum terjawab? Ya pernah kecewa karena itu manusiawi dimana permintaan terlalu banyak, kadang kurang berdoa hanya meminta terus, jangan gampang kecewa dan baperan pada Tuhan. Semua itu butuh proses, bagaimana cara Tuhan mengabulkan kehidupan kita, Tuhan memberikan jalan di luar logika kita, sedangkan THM. Siti Rengganis (Sapto) menjawab pertanyaan, apakah kita masih percaya saat Tuhan terasa diam? Dalam keadaan apapun tetap percaya, dalam keadaan diam kita menjalani proses kehidupan untuk menuai apa yang diharapkan, butuh usaha, pengorbanan, itu semua butuh iman. Yulius Roosdananto Yan Pawoko (Tatok) juga menanggapi pertanyaan, apakah imanku cukup rendah hati menerima kasih karunia Tuhan ? Belum cukup karena sebagai manusia kita sudah berusaha tetapi hasilnya Tuhan yang menentukan. Bila kita belum menerima berarti kita belum siap diberikan Tuhan istilahnya belum rejeki saya diberikan oleh Tuhan).

Usai sharing, dilanjutkan doa umat, doa penutup, berkat penutup, dan menyanyikan lagu penutup Puji Syukur 695 “Aku Dengar Bisikan Suaramu”. Setelah doa “Kamisan” selesai, umat beramah tamah sambil mendengarkan pengumuman serta informasi kegiatan akan datang di Lingkungan Santo Antonius Padua Berbah, Gereja Santo Yusuf Berbah maupun Paroki Maria Marganingsih Kalasan.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Nova Ardianti

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *