Perasaan sukacita begitu terasa menyelimuti keluarga besar Ibu Y. Ponidjo. Pada Minggu malam, 2 Agustus 2026, keluarga mengundang umat dan para kerabat untuk bersama-sama merayakan Ekaristi Mitoni, sebagai ungkapan syukur atas usia kandungan tujuh bulan Kartini, istri tercinta Hendi, putra Ibu Y. Ponidjo. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Agustinus Kartono, Pr., dan dilaksanakan di kediaman keluarga yang beralamat di Jalan Arimbi No. 08, Perum Purwomartani Baru, Kalasan, Sleman, dan dihadiri sekitar 70 umat.
Mitoni merupakan Tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut kehadiran calon bayi saat kandungan ibu berusia tujuh bulan . Upacara Mitoni selaras dengan ajaran Gereja bahwa kehadiran buah hati hendaknya disambut dengan penuh ungkapan syukur. Mitoni merupakan momen berahmat dan wujud doa syukur kepada Allah.

Dalam homilinya, Romo menyampaikan bahwa, “ Ketika menyaksikan seorang calon ibu, kita diajak merenungkan bahwa inilah karya ajaib Tuhan yang dititipkan ke calon ibu. Tuhan melanjutkan karya penciptaan, menggandakan kasih Tuhan yang secara konkrit ada dalam kandungan “ Romo Kartono mengajak umat merenungkan tiga hal penting dari Sabda Tuhan yang dibacakan pada malam itu.
Bacaan pertama yang diambil dari Kitab Yeremia 1:4-9 menegaskan bahwa Allah mengasihi sejak anak berada dalam kandungan. Sesungguhnya sejak awal mula Tuhan sudah mengasihi kita. Sejak calon bayi dibentuk dalam rahim seorang ibu. Oleh karena itu untuk bersyukur kita tidak perlu menunggu ada kejadian yang menggembirakan seperti mendapat hadiah, bisa makan enak, liburan ke pantai, dan lain-lain. Sudah sepantasnyalah setiap hari kita bisa merasakan dan menyadari kasih Tuhan karena kasih Tuhan sudah nyata sejak dari awal mula.

Injil Lukas yang mengisahkan perjumpaan dua calon ibu yaitu Maria dan Elisabeth mengajarkan kepada kita bahwa hanya sukacitalah yang muncul saat berjumpa dengan Tuhan. Disampaikan bahwa bayi dalam kandungan Elisabeth melonjak saat berjumpa dengan Tuhan yang ada dalam kandungan Maria . Kita pun diajak untuk mengalami perasaan yang sama, yaitu sukacita saat berjumpa dengan Tuhan dalam berbagai pengalaman iman kita setiap hari.
Pelajaran ketiga dari homili Romo Kartono malam hari itu adalah, bahwa kelak setelah “si buah hati” lahir, maka pasangan muda ini akan dipanggil menjadi bapak dan ibu. Menjadi dan mengalami peran sebagai bapak dan ibu tidak hanya memberikan pengalaman sukacita, tetapi juga memberikan banyak tantangan. Dan berbagai masalah. Namun sebagai Keluarga yang beriman, kita tidak perlu kuatir karena kita yakin Tuhan akan terus berkarya mendampingi dan menyertai umat-Nya.

Dalam rangkaian Pemberkatan Kandungan Tujuh Bulan dipanjatkan Doa Mohon Karunia Roh Kudus dan Doa berkat bagi ibu yang mengandung. Kita memohon berkat supaya Kartini tabah dan sabar menjalani masa kehamilan sampai persalinan. Hingga saatnya tiba, Kartini dapat bergembira karena melahirkan anak yang sehat, menjadi kebanggaan orang tua, dan sesudah dewasa menjadi pribadi yang berbakti kepada Tuhan.
Perayaan Mitoni yang penuh dengan ungkapan syukur ditegaskan sekali lagi melalui lagu penutup “Bapa Engkau Sungguh Baik”. Kita bersyukur kepada Tuhan atas kasih, berkat, dan pertolongan yang tiada habisnya di sepanjang hidup . Misa selesai kurang lebih pukul 20.45 WIB, dilanjutkan dengan ramah tamah dan jamuan sederhana yang telah disiapkan keluarga.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Veronica Nur Hardiyani



