Dalam tradisi Jawa, untuk menghormati mereka yang telah berpulang, dikenal peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun, dua tahun, dan tiga tahun atau 1000 hari. Peringatan ini bertujuan untuk mendoakan jiwa mereka yang telah meninggal agar diampuni dosa-dosanya dan diperkenankan hidup abadi di surga. Sekaligus mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberi keikhlasan serta kekuatan, kesabaran, dan penghiburan sehingga tetap semangat melanjutkan mengemban tugasnya di dunia.

Pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2026 pukul 18.00 WIB keluarga besar Theresia Yuliastutie melaksanakan Misa Memule untuk mengenang dan mendoakan Yohanes Marsugi yang telah 2 tahun berpulang. Misa dipersembahkan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Misa memule dihadiri oleh sekitar 100 (seratus) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir dan umat dari lingkungan lain di wilayah Santo Yusup Berbah. Beberapa di antaranya tampak keluarga Yuliastutie yang berkeyakinan lain. Rangkaian misa memule berlangsung lancar, khusyuk, dan khidmat. Diiringi kelompok koor umat LGAK yang telah mempersiapkan diri dengan berlatih.

Dalam khotbahnya Romo Ngatmo menyampaikan tentang keterlibatan Yohanes Marsugi pada masa akhir hidupnya dalam tugas pelayanan sebagai prodiakon. Almarhum menghidupi tugas pelayanan sebagai prodiakon dengan baik, teristimewa dalam mengirim Hosti ke umat lansia dan yang sakit selama masa pandemi. Bahkan, ketika sudah mulai serangan stroke, almarhum tetap semangat memimpin ibadat memule. Keteladanan dalam pelayanan almarhum patut dicontoh dan dilanjutkan. Di samping mengenang keteladanan almarhum Yohanes Marsugi, Romo Ngatmo juga mohon pamit karena diberi tugas baru di paroki yang lain. Namun, sesuai permintaan romo paroki Kalasan dan tugas dari Bapa Uskup, Romo Ngatmo masih akan membantu di Paroki Marganingsih Kalasan untuk kurun waktu tertentu.

Tepat pukul tujuh malam rangkaian Misa Memule selesai. Sementara umat LGAK melanjutkan bincang-bincang dengan keluarga, Romo Ngatmo segera berkemas karena harus mempersembahkan Misa di lingkungan yang lain. Tugas pertutusan seorang imam yang harus dilaksanakan dengan segenap hati meski raga kadang lelah. Namun, sebagaimana umat LGAK yang selalu memiliki asupan energi lebih setiap kali berjumpa dengan saudara seiman dalam persekutuan, semoga perjumpaan dengan umat pun bisa memberikan asupan energi bagi imam selaku gembala umat.




