0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Menghayati Keteladanan Romo YB Mangunwijaya

Pada hari Kamis, 20 Agustus 2026 umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir kembali mengadakan pertemuan pendalaman iman rutin. Pertemuan kali ini dilaksanakan di rumah Theresia Dwi Haryani, dihadiri oleh 16 (enam belas) umat.

Dalam rangka memperingati bulan Ajaran Sosial Gereja yang lebih kita kenal sebagai bulan Kebangsaan, umat lingkungan diajak untuk menghayati keteladanan Romo YB Mangunwijaya dengan tema Belajar Menjadi Katolik dan Indonesia dari YB Mangunwijaya, subtema Setiap Orang ada Zamannya. Lambert Tallulembang selaku pemimpin sarasehan kali ini mengajak umat merefleksikan hubungan antara iman Katolik dan kehidupan sebagai warga Indonesia. Tiga pertanyaan menjadi bahan permenungan: nilai iman Katolik apa yang membuat umat bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia; inspirasi apa yang diperoleh dari kehidupan Romo Mangun tentang menjadi Katolik dan Indonesia; serta aksi nyata apa yang dapat dilakukan untuk menjadi garam dan terang di lingkungan sekitar.

Sosok Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau yang dikenal dengan nama Romo Mangun, menjadi inspirasi utama. Lahir di Ambarawa pada 6 Mei 1929, Romo Mangun dikenal sebagai imam, arsitek, sastrawan, pendidik, dan pejuang kemanusiaan. Ia pernah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan sebagai Tentara Pelajar dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1959. Keberpihakannya kepada masyarakat kecil tampak dalam pendampingannya terhadap warga bantaran Kali Code, Yogyakarta. Ia membantu menata permukiman agar lebih layak dan manusiawi, sebuah karya yang kemudian meraih Aga Khan Award for Architecture pada 1992. Ia juga mendampingi masyarakat terdampak pembangunan Waduk Kedungombo, dengan memilih hadir, mendengarkan, dan berjuang bersama mereka.

Melalui katekese ini, umat LGAK diajak memahami bahwa iman tidak berhenti pada doa dan perayaan di gereja. Iman dipanggil untuk hadir dalam kehidupan nyata: peduli kepada sesama, berpihak kepada yang kecil, merawat persaudaraan, dan mencintai tanah air.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *