Memasuki hari Kamis pekan ke-4 bulan Agustus 2026, umat Lingkungan Santo Lukas Somodaran kembali melaksanakan kegiatan Doa Rutin Lingkungan “Kamisan”. Kegiatan ini diadakan pada hari Kamis, 27 Agustus 2026 pukul 19.00 bertempat di kediaman Keluarga Bram/Agatha. Sejumlah 30 umat hadir pada doa rutin ini, terdiri dari umat dewasa, umat lansia, dan anak-anak. Tema doa rutin lingkungan kali ini masih bernuansa kemerdekaan Republik Indonesia yaitu “Tanah air ada di sana, di mana ada cinta dan kedekatan hati.”

Ibadat diwali dengan lagu pembuka yang dipimpin oleh Ch Wiwik Suparyanti kemudian dilanjutkan dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Agatha. Injil dibacakan oleh Bram selaku tuan rumah, yang berisi mengenai perumpaan orang Samaria yang baik hati. Setelah itu dilanjutkan dengan pendalaman kisah inspiratif Romo Mangun yang dibacakan oleh Martinus Yuni Sisworo yang bertugas sekaligus sebagai pemandu doa kali ini. Pendalaman tersebut membahas mengenai iman yang terbuka harus disertai perbuatan atau tindakan nyata. Orang beriman tidak cukup hanya berkata “Saya peduli”, namun orang beriman dipanggil untuk hadir menyapa, mendengar, melayani, dan ikut memulihkan martabat sesama. Romo Mangun memberikan contoh kepada umat dengan mencintai negeri Indonesia dengan keberpihakan konkret. Ia hadir bagi warga miskin, anak terlantar dan masyarakat kecil. Semua umat yang hadir mendengarkan dengan khusuk kisah inspiratif yang dibacakan tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sharing pengalaman dengan panduan pertanyaan yang masih berkaitan dengan kisah inspiratif yang dibacakan sebelumnya. Beberapa umat ditunjuk untuk ikut berpastisipasi membagikan/sharing pengalamannya. Pertanyaan pertama mengenai apakah masih ada orang-orang yang merasa terluka di sekitar lingkungan kita baik di gereja maupun masyarakat. Umat pertama yaitu Paulina Sarindri yang menjawab pertanyaan tersebut menceritakan bahwa semua orang pasti pernah terluka namun dalam konteks kemasyarakatan umat senantiasa hadir membantu umat-umat lain yang membutuhkan dengan adanya dana sosial dan lain-lain sehingga diharapkan wujud kepedulian ini dapat memberikan penghiburan kepada mereka yang membutuhkan. Pertanyaan kedua membahas mengenai apakah lingkungan gereja kita sudah dikenal sebagai komunitas yang ‘srawung’, peduli dan hadir di tengah masyarakat. Pertanyaan kedua ini dijawab oleh Ignatius Birawa. Ia menjelaskan bahwa lingkungan gereja sudah berusaha peduli dan hadir di tengah masyarakat. Sebagai contoh kecil pada saat ibadat doa rutin ini diadakan kolekte terpisah untuk bencana NTT. Pertanyaan ketiga membahasa mengenai masalah sosial apa yang seharusnya menjadi perhatian di lingkungan. Pertanyaan ketiga ini dijawab oleh Ch Wiwik Suparyanti yang juga membagikan pengalamannya membantu menjembatani umat lingkungan terkait kesehatan untuk dapat ditindaklanjuti oleh petugas yang berwenang. Pertanyaan terakhir membahas mengenai langkah apa yang dapat dilakukan lingkungan agar cinta tanah air tidak berakhir hanya sebagai kata-kata semata. Pertanyaan ini dijawab oleh Enny Rahayu. Ia menjelaskan bahwa sebagai masyarakat kita harus turut andil pada kegiatan di lingkungan masyarakat seperti contohnya tirakatan Agustusan, lomba, jalan sehat. Tidak hanya hadir namun juga turut berpartisipasi memberikan doorprize, menjadi bagian dari acara seperti menyanyi dan lain-lain.

Pemandu kemudian merangkum pendalaman tersebut dari hasil sharing pengalaman umat. Diharapkan umat terus menumbuhkan rasa peduli dan melakukan aksi nyata terhadap sesama di lingkungan. Acara dilanjutkan dengan doa umat dan doa penutup. Lagu penutup ‘Tanah Tumpah Darahku’ dinyanyikan sebagai penutup rangkaian acara ibadat kali ini. Acara berlangsung khidmat dan lancar. Selanjutnya ramah tamah dan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah.
Catatan: Tulisan dan Foto dikirim oleh Lingkungan St. Lukas Somodaran




