Pertemuan BKSN Keempat kembali digelar di Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan dengan mengangkat tema “Pengajaran Yesus Tentang Hidup yang Kekal”. Pertemuan berlangsung pada Selasa, 29 September 2026 pukul 18.30 WIB, bertempat di kediaman Ignatius Sandiwan Darmawan, Dusun Sanan Brintikan RT 05, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Sebanyak 14 umat hadir dan mengikuti pertemuan dengan penuh antusias. Pendalaman iman kali ini dipandu oleh Prodiakon FX. Risang Baskara.
Pertemuan diawali dengan lantunan lagu pembuka “Yesus Pokok dan Kitalah Carangnya”, yang mengajak umat kembali menyadari bahwa hidup sebagai orang beriman tidak pernah terpisah dari sumber kehidupan, yakni Kristus sendiri. Suasana kemudian dilanjutkan dengan Doa Ardas IX Keuskupan Agung Semarang (2026–2030). Sebelum memasuki pendalaman tema, pemandu mengajak umat melihat kembali Injil Matius yang menghimpun ajaran Yesus dalam lima kotbah besar. Pertama, Kotbah di Bukit (Matius 5–7), yang memuat Sabda Bahagia dan menjadi bahan BKSN Pertemuan I. Kedua, Kotbah Pengutusan (Matius 10), yang menjadi dasar Pertemuan II. Ketiga, Perumpamaan tentang Kerajaan Surga (Matius 13). Keempat, Ajaran tentang Pembinaan Jemaat (Matius 18), yang menjadi bahan Pertemuan III. Kelima, Kotbah tentang Akhir Zaman (Matius 23–25), yang menjadi dasar permenungan pada Pertemuan BKSN IV.

Berangkat dari Injil Matius 25:31–46, umat diajak merenungkan bahwa jalan menuju hidup kekal bukan sekadar tentang apa yang kita ketahui atau seberapa banyak doa yang kita hafalkan, melainkan tentang bagaimana kasih itu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Yesus menunjukkan bahwa ketika kita memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, menerima orang asing, mengunjungi yang sakit, dan hadir bagi mereka yang membutuhkan, sesungguhnya kita sedang melayani Dia sendiri. Ada tiga pokok penting yang menjadi bahan permenungan. Pertama, kasih harus diwujudkan secara nyata. Iman, ibadat, dan hukum tetap memiliki tempat yang penting, tetapi semuanya tidak boleh menjauhkan kita dari kepedulian terhadap sesama. Kedua, Yesus hadir dalam diri mereka yang menderita. Di balik wajah tetangga yang sedang sakit, orang tua yang kesepian, maupun mereka yang kehilangan penghasilan, terdapat wajah Kristus yang mengundang kita untuk hadir dan berbagi kasih. Ketiga, tanggung jawab iman bersifat pribadi. Setiap orang dipanggil untuk mempertanggungjawabkan pilihan dan tindakannya sendiri. Tidak cukup hanya berlindung di balik kelompok, komunitas, ataupun kesalehan bersama; iman harus menemukan wujudnya dalam tindakan kasih yang personal.

Pendalaman tema berlangsung dalam suasana hangat, akrab, dan penuh sukacita. Umat saling berbagi pengalaman serta merefleksikan berbagai peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang ternyata dapat menjadi ruang untuk menghadirkan kasih Kristus. Dari percakapan yang sederhana, tumbuh kesadaran bahwa hidup kekal bukanlah sesuatu yang hanya dinantikan kelak, tetapi mulai dibangun sejak sekarang melalui kasih, kepedulian, dan kesediaan untuk hadir bagi sesama.
Pertemuan kemudian ditutup dengan doa umat dan doa penutup, dilanjutkan dengan lagu “Kasih-Nya Seperti Sungai”. Alunan lagu tersebut seakan menjadi peneguh bahwa kasih Allah senantiasa mengalir dan menghidupkan, sekaligus mengajak setiap umat untuk meneruskannya kepada orang-orang di sekitarnya. Sebelum berpamitan pulang, kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga tuan rumah. Dalam kesederhanaan dan keakraban itu, Pertemuan BKSN Keempat menjadi sebuah perjalanan iman yang mengingatkan bahwa hidup kekal berawal dari kasih yang kita hidupi dan kita bagikan kepada sesama.

Catatan : Ditulis oleh FX. Risang Baskara dan A. Sudihartono, Foto oleh Bonfilio Febri Priyambodo




