041 St. Bartolomeus Brintikan: Jiwa Bersahaja Seperti Anak Kecil dalam Naungan Bunda Maria dan Para Malaikat Pelindung

Umat Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan mengadakan Ibadat Lingkungan pada hari Jumat, 2 Oktober 2026 pukul 18.30 WIB di rumah Bonfilio Febri Priyambodo, Dusun Sanan Brintikan RT 04 Tirtomartani, Kalasan, Sleman  dengan tema “Jiwa Bersahaja Seperti Anak Kecil dalam Naungan Bunda Maria dan Para Malaikat Pelindung “  dipimpin oleh Prodiakon FX Risang Baskara, dan diikuti 27 umat.

Ibadat diawali dengan lagu pembuka “Salam Bagimu, Maria” (Bait ke-3) dari Puji Syukur No. 628. “Malam ini kita berkumpul dengan dua rahmat istimewa. Pertama, kita mengawali bulan Oktober, bulan yang secara khusus kita baktikan kepada Bunda Maria melalui devosi Rosario suci. Kedua, hari ini Gereja secara universal merayakan Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung. Melalui sabda Tuhan hari ini, Yesus mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam ambisi siapa yang terbesar, melainkan berani bertobat dan memiliki jiwa yang bersahaja seperti seorang anak kecil. Anak kecil selalu percaya penuh pada genggaman tangan orang tuanya. Demikian pula kita diajak untuk percaya bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Dia memgutus malaikatNya menjaga kita, dan memberikan Bunda maria sebagai teladan kepasrahan iman yang sempurna”, demikian pengantar FX. Risang Baskara. 

Bacaan Kitab Suci diambil dari Keluaran 23:20-23a dibacakan oleh Bonfilio Febri Priyambodo, Mazmur Tanggapan dari Mazmur 91:1-6, 10-11 dengan refrein : “Malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu”, sedangkan bacaan Injil diambil dari Injil Matius 18:1-5, 10. 

Sabda Tuhan menegaskan pesan penghiburan : “ Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di surga”. Kitab Keluaran juga menjanjikan bahwa Allah mengutus malaikat berjalan di depan kita untuk melindungi kita di jalan. Allah tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian menghadapi badai kehidupan. Kasih Tuhan begitu nyata dan detail menjaga hidup kita. Kita telah memasuki Bulan Rosario, siapakah manusia yang paling sempurna menghayati jiwa “anak kecil” di hadapan Allah ? Tidak lain adalah Bunda Maria. Ketika menerima kabar sukacita  dari Malaikat Gabriel, Maria tidak menuntut jaminan logika yang rumit. Dengan kepasrahan murni seorang anak di hadapan Bapanya, Maria berkata : “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. “ Kerendahan Maria itulah yang menjadikannya besar di mata Allah, sehingga dari rahimnya lahirlah Sang Juru Selamat. 

Setelah homili, suasana doa semakin khidmat melalui Doa Rosario Peristiwa Sedih yang dipimpin oleh tuan rumah, dilanjutkan dengan Doa Penutup oleh pemimpin ibadat. Lantunan “Salam Bagimu, Maria” bait ke-4 pun mengalun sebagai penutup, seolah menghantarkan seluruh umat untuk membawa damai dan kasih yang telah dirasakan dalam ibadat ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum kembali ke rumah masing-masing, umat pun menikmati teh hangat dan makanan ringan yang telah disiapkan tuan rumah sembari mendengarkan pengumuman yang disampaikan Ketua Lingkungan.

Catatan : Tulisan oleh FX. Risang Baskara dan A. Sudihartono, Foto dikirim oleh Bonfilio Febri Priyambodo

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *