Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa, “Doa Rosario adalah doa keluarga dan perdamaian dunia.” Paus Leo XIV pun menyerukan agar umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari selama bulan Oktober dengan intensi khusus untuk memohon perdamaian dunia. Paus Leo menekankan agar doa Rosario ini dilakukan secara pribadi, dalam keluarga, dan dalam komunitas.

Umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir pun berkomitmen untuk berdoa Rosario bersama setiap hari selama bulan Oktober. Di hari ke-6, dua puluh satu (21) telah hadir di rumah Ignatius Dewadi sebelum pukul tujuh dan tepat pukul tujuh rangkaian ibadat Rosario pun dapat dimulai. Sebuah komitmen tak tertulis tetapi dilaksanakan secara kompak tanpa beban. Semangat umat yang patut dirawat dan terus dihidupi sebagai modal kebersamaan.

Lambert Tallulembang memimpin ibadat pembuka, mengawali rangkaian doa Rosario. Dalam pengantar pembuka, Lambert mengajak umat LGAK untuk terus berdoa Rosario sebagaimana pesan Bunda Maria yang disampaikan kepada enam remaja di Medjugorje. “Bukan kebiasaan yang mudah, tetapi dengan niat yang terus dibangun, niscaya yang tidak mudah akan dapat kita wujudkan,” tambah Lambert sebelum mengajak umat untuk mendaraskan doa tobat. Umat pun melanjutkan pendarasan Doa Rosario. Seperti biasa, anak-anak ambil bagian dengan membacakan kutipan peristiwa secara bergantian. Sebuah rutinitas baik yang akan menumbuhkan kebiasaan anak-anak untuk berkomunitas dalam iman.

Menjelang pukul delapan malam, rangkaian ibadat rosario pun usai. Umat pun pamit pulang untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Dengan gembira Dewadi mengantar kepulangan umat di ambang pintu keluar sambil berjabat tangan dan memberikan senyuman. Senyum kebersamaan yang tak lepas dari wajah-wajah umat LGAK yang mewarnai setiap perjumpaan.




