Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan dan Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis Sembur, keduanya tergabung dalam Wilayah Santo Petrus Damianus Kalasan Timur, kembali mendapat kesempatan untuk melayani melalui tugas koor dalam Misa Harian pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 06.00 WIB, di Gereja Maria Marganingsih Kalasan. Misa yang dirayakan pada Senin Pekan Biasa XXIX ini dipimpin oleh Romo Antonius Budi Wihandono, Pr. Dalam perayaan Ekaristi tersebut, kedua lingkungan berpadu dalam pelayanan untuk mengiringi umat berdoa melalui lantunan lagu-lagu liturgi. Pelayanan koor bukan sekadar perpaduan suara dan nada, melainkan ungkapan iman yang diwujudkan melalui nyanyian sebagai persembahan pujian kepada Tuhan.

Pada kesempatan tersebut, jumlah petugas koor yang hadir hanya tujuh orang karena sebagian besar petugas berhalangan hadir. Dari Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan, hadir Yohanes Pembaptis Sumaryadi, Hilarius Yudi Lasyanto, dan Bernadheta Dwi Novi. Meskipun dengan jumlah personel yang terbatas, pelayanan tetap berlangsung dengan penuh penghayatan, didukung oleh Gita sebagai organis yang setia mengiringi setiap nyanyian. Lagu pembuka “Kini Kami Menghadap-Mu” (Puji Syukur No. 334), Mazmur Tanggapan dengan refrein “Tuhanlah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita”, serta lagu penutup “Yang Berteduh pada Tuhan” (Puji Syukur No. 654) dilantunkan untuk mengiringi perayaan Ekaristi. Kesederhanaan dalam pelayanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan jumlah bukanlah penghalang untuk mempersembahkan pujian yang tulus kepada Tuhan.

Melalui pelayanan koor ini, umat diajak untuk menyadari bahwa setiap talenta, sekecil apa pun, memiliki arti dalam kehidupan menggereja. Semangat melayani dengan setia, meskipun dalam keterbatasan, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi umat lainnya untuk semakin terlibat aktif dalam tugas-tugas liturgi. Semoga setiap nada yang dipersembahkan tidak hanya memperindah perayaan Ekaristi, tetapi juga menguatkan iman, menumbuhkan persaudaraan, serta menghadirkan damai dan sukacita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pelayanan koor sungguh menjadi doa yang hidup, yang terus bergema dalam hati dan diwujudkan melalui tindakan kasih kepada sesama.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Yohanes Pembaptis Sumaryadi




