007 St. Mateus Cupuwatu II: Pergi Jauh Mendekat pada Keheningan

Minggu pagi yang dingin, tanggal 28 September 2025, umat Lingkungan St Matius berkumpul di Balai Dusun Cupuwatu 2. Matahari saat itu masih malu-malu, mungkin karena belum juga masuk pukul tujuh. Pukul 06.30 WIB, dua bus melaju membawa delapan puluh orang umat. Ke manakah tujuan mereka? Ya, umat Lingkungan St Matius Cupuwatu melakukan perjalanan mengunjungi pertapaan St. Maria Rawaseneng di Temanggung.

Pertapaan ini dibuka secara resmi pada 1 April 1953 sebagai cabang dari pertapaan induk biara Koningshoeven-Tilburg, Belanda. Pertapaan itu dikelola para rahib dari Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO). Ordo ini membaktikan diri dalam hidup yang dikuduskan bagi Allah dan diungkapkan dalam persatuan persaudaraan, dalam kesunyian dan diam diri, dalam doa dan kerja, dan juga dalam tertib hidup.

Perjalanan selama hampir tiga jam itu berlangsung aman dan lancar. Umat lingkungan St Matius bergegas mengikuti misa yang dimulai pukul 10.00 WIB. Misa yang sedikit berbeda dari misa yang biasa diikuti itu pun berlangsung khusyuk. Usai misa, umat lingkungan St Matius memasuki ruang aula. Selama kurang lebih tiga puluh menit, umat lingkungan St Matius menyimak pemaparan terkait pertapaan Santa Maria Rawaseneng dipandu oleh Romo Edi Prasetya, Pr. Doa dan kerja tangan (ora et labora) menjadi napas utama di komunitas ini. Dengan demikian, doa bersama, bacaan suci, dan kerja tangan menjadi tiga latihan dasar bagi pembentukan hidup rahib Ada tujuh kali waktu berdoa yang dilakukan para rahib, baik secara bersama maupun pribadi. Untuk bergabung dengan komunitas ini syarat yang perlu dipenuhi adalah laki-laki, pendidikan SMP atau SMA dan berusia maksimal 40 tahun. Berbeda dengan komunitas biara lain, para rahib tidak melalui tahapan kuliah filsafat teologi. Meskipun demikian, komunitas ini bekerja sama dengan berbagai instansi untuk melakukan seminar, kuliah, dan berbagi pengetahuan yang lain. Komunitas Rahib Trappist di Temanggung memiliki tiga bidang usaha, yaitu sapi, kue, dan kopi. Ketiga bidang usaha utama itu dikerjakan oleh para rahib yang tinggal di pertapaan. Selain para rahib, ada 170 masyarakat sekitar yang bekerja membantu di tiap bidang usaha itu. Para rahib juga bekerja di bidang lain seperti administrasi, pertukangan kayu, bengkel, pelayanan sosial dan pastoral kamar tamu. Lalu bagaimana dengan kemungkinan kebangkrutan? Romo Edi menyatakan bahwa risiko usaha yang demikian tentu akan ada. Namun, upaya mencegahnya terus dilakukan. Misalnya, dengan melakukan inovasi, servis pelanggan, dan memperluas penjualan. Usai bincang dan sharing, umat Matius menuju Museum Pertapaan yang juga menjadi pusat oleh-oleh. 

Umat St Matius membeli produk yang tersedia sebelum makan siang dan kembali ke Yogyakarta. Perjalanan panjang yang riuh dan hangat saat berangkat maupun pulang itu begitu berbeda dengan jalan hidup yang ditempuh para rahib. Para rahib memilih mendedikasikan hidupnya berada di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk dunia. Mereka memilih jalan hidup sebagai pendoa seraya berkarya dengan berteman keheningan. Sementara umat Lingkungan St Matius menempuh perjalanan panjang untuk mendekat pada keheningan itu sesaat. Kemudian umat Lingkungan St. Matius membawa pulang kehangatan dan doa-doa itu dalam kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur yang berlimpah. Pukul 18.00 WIB, dua bus yang membawa umat Lingkungan St Matius tiba kembali di Cupuwatu dengan selamat. Ditulis oleh Katarina Retno.

Catatan: Tulisan dan foto dikirim oleh Katarina Retno dan Damiana Wijosari Pusoko

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *