Di tengah hiruk pikuk kehidupan, di tengah kesibukan tugas dan aktivitas, seringkali kita lupa menggunakan telinga untuk mendengar. Kita sibuk dengan diri sendiri, seolah lupa bahwa kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Sebagaimana kita butuh untuk didengar, orang lain pun juga butuh kita untuk mendengarkan mereka. Bahkan kita sering lupa, bahwa kita juga harus mendengar suara Tuhan.

Dalam Gereja Katolik memiliki tradisi doa adorasi, yang kita kenal dengan Adorasi Ekaristi, penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Dalam Adorasi Ekaristi kita diajak untuk duduk, diam, dan hening. Kita tinggal di hadapan dan bersama Yesus yang hadir dlam Sakramen Mahakudus. Pada kesempatan ini kita tidak perlu melakukan apa pun, tidak perlu merangkai kata-kata indah di dalam doa. Kita cukup duduk dengan tenang dan hening, tetapi hati hanya tertuju kepada Yesus, Sang Juru Selamat kita. Di dalam keheningan kita belajar merasakan kehadiran Tuhan. Di dalam keheningan kita belajar mendengar suara Tuhan, yang sering kita abaikan dengan alasan berbagai kesibukan.

Adorasi Ekaristi: Keheningan yang Melahirkan Inspirasi merupakan tema sarasehan BKL di hari yang ke-22. Dua puluh satu (21) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir hadir di rumah Agnes Sumarwi. Pukul tujuh malam, Lambertus Tallulembang selaku pemimpin ibadat memulai sarasehan dengan doa pembuka dan ibadat singkat. Umat yang hadir diajak membaca teks panduan bersama-sama. Dalam penjelasannya Lambert mengatakan, “Kita seringkali tidak mau mendengar suara Tuhan, tetapi tanpa kita sadari kita meminta Tuhan selalu mendengar permohonan kita.” Sebagai umat Katolik, pada Jumat pertama kita selalu mengikuti perayaan Ekaristi yang diakhiri dengan Adorasi Ekaristi. Gereja mengajak kita untuk berani diam dan hening bersama Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Dalam keheningan kita diajak mendengar suara Tuhan. Dalam keheningan pula kita memperoleh berkat Tuhan. Setelah sarasehan dilanjutkan dengan novena Roh Kudus di hari yang ke-8 dipandu oleh Agnes Sumarwi.

Semoga dengan sarasehan BKL ke-22 ini kita makin peka dengan suara Tuhan yang hadir melalui Sakramen Mahakudus. Juga hadir melalui pasangan, anak-anak, keluarga, dan sesama kita. Terlebih melalui umat di Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir.




