Sebagai orang Katolik, saat kematian bagi kita sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan kita di dunia ini selesai, tersedialah bagi kita kediaman abadi di surga yang telah disiapkan Tuhan bagi kita. Kematian bagi kita merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus, kebangkitan dan kehidupan kita saat perjumpaan abadi dengan Dia, pokok pengharapan kita, yang mengantar kita pulang ke rumah Bapa.

Atas dasar iman itu, kita memohon agar saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, dan boleh menikmati kebahagiaan kekal di sisi kanan Allah, Bapa kita, serta boleh bersama-sama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukannya. Hari kenangan dan peringatan ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, bahwa kelak kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita, untuk bersama Maria memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Kita pun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini dan pulang kepada Bapa di surga. Tetapi kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.

Pada hari Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 5 (lima) sore keluarga besar Theresia Mujilah mengundang umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir, umat di wilayah Gereja Santo Yusup Berbah, dan beberapa umat dari Gereja Maria Marganingsih Kalasan untuk mengadakan ibadat memule. Ibadat memule memperingati 1 tahun meninggalnya Ibu Theresia Mujilah dan 1000 hari berpulangnya Ibu Cicilia Susilah. Dihadiri sekitar 60 (enam puluh) umat. Rangkaian ibadat memule dipandu oleh prodiakon RB Sarbini Ari Purnomo dan kidung oleh Theovilus Suwarto. Dalam permenungannya Ari mengenang kembali ketekunan Bu Mujilah dan Bu Susilah dalam beriman kepada Kristus. Sebagai kakak, bu Mujilah lebih berpembawaan tenang dan kalem, sementara sebagai adik Bu Susil tampak lebih kenes dan kemayu. Namun, keduanya sama-sama ramah dan rajin hadir dalam pertemuan lingkungan. Hal-hal baik dari keduanya patut menjadi teladan bagi kita yang masih harus melanjutkan peziarahan hidup.

Pukul enam (6) sore rangkaian ibadat memule diakhiri dengan menyanyikan lagu penutup. Umat pun segera berpamitan pulang, untuk melanjutkan aktivitas kampung berkaitan dengan acara tirakatan menyongsong hari kemerdekaan RI ke-81. Keluarga besar melepas umat yang berpamitan dengan sukacita dan saling mengucapkan salam dan harapan agar Tuhan Yesus selalu memberkati langkah hidup kita masing-masing.




