Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) adalah suatu tradisi Gereja Katolik yang selalu dilaksanakan pada bulan September. Gereja Katolik mengharapkan agar umat Katolik Indonesia makin akrab dengan Kitab Suci dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi iman dalam kehidupan sehari-hari. Tema pada pertemuan pertama adalah pembaruan relasi dengan diri sendiri, sedangkan Tema BKSN 2025 yang kedua adalah pembaruan relasi dengan sesama.

Paus Leo XIV mengungkapkan harapannya agar tahun Yubelium, yang beberapa bulan lagi akan berakhir, menjadi momen pribadi perjumpaan kita pribadi dengan Yesus Kristus, pintu keselamatan kita, yang selalu diwartakan oleh Gereja sebagai pengharapan kita. Kita memang tidak lepas dari kecenderungan untuk berdosa, namun kita memiliki pengharapan bahwa Allah senantiasa menawarkan pengampunan dan penghiburan ketika kita datang kepada-Nya dengan hati terbuka dan kehendak hati untuk bertobat. Allah memanggil kita untuk menjalani pembaruan hidup, dengan cara memperbarui relasi dengan diri sendiri, sesama, keluarga, dan Allah.

Pada hari Kamis Pon tanggal 18 September 2025 pukul 7 (tujuh) malam, umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir kembali mengadakan pendalaman iman rutin di rumah keluarga RB Maryanto. Pertemuan kali ini diisi dengan sarasehan BKSN yang kedua, dipimpin oleh Prodiakon RB Sarbini Ari Purnomo. Penjelasan atas isi perikope Zakharia 7: 1-14 dibantu oleh Lambert Tallulembang, pewarta andalan LGAK. Lambert mengatakan bahwa, “Isi bacaan dalam perikop ini Zakharia menegus umat Israel dengan sangat keras karena mereka berpuasa bukan untuk Tuhan tetapi untuk kepentingan diri.” Dua puluh sembilan (29) umat hadir dalam sarasehan kali ini dan terlibat dari awal hingga akhir, baik secara aktif maupun pasif. Semua bersatu dalam kebersamaan untuk lebih mengenal firman-Nya dan terus berupaya mengimplementasikan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini umat sepakat untuk terus memelihara kepedulian sosial yang telah berjalan dengan baik. Di antaranya adalah memberikan bantuan sembako kepada umat dan masyarakat yang sungguh memerlukan dalam momen tertentu; mengunjungi umat yang sakit; membantu meringankan beban umat dan masyarakat yang sedang mengalami kesulitan karena bencana atau tertimpa musibah, dan memberikan modal usaha dengan penggalangan dana secara kolektif.

Pukul 20.30 rangkaian sarasehan berakhir dan umat melanjutkan dengan berbincang membahas program paroki terkait dengan bantuan modal usaha dll. Setelah dirasa cukup, umat pun pamit pulang untuk melanjutkan aktivitas bersama keluarga. Dengan sarasehan yang kedua ini umat makin menyadari bahwa ibadah yang sejati kepada Allah senantiasa disertai dengan tindakan yang penuh kasih kepada sesama.




