041 St. Bartolomeus Brintikan: Makin Kecil di Hadapan Dunia, Makin Besar di Dalam Kristus

Ibadat rutin Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan pada bulan April 2026 mengangkat tema “Makin Kecil di Hadapan Dunia, Makin Besar di Dalam Kristus”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 12 April 2026 pukul 18.30 WIB, bertempat di kediaman Fransiskus de Paula Suparman, Dusun Brintikan RT 03, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Ibadat dipimpin oleh Prodiakon FX. Risang Baskara dan diikuti oleh 17 umat, yang terdiri dari 14 orang dewasa dan 3 anak-anak. Suasana ibadat berlangsung khidmat sekaligus penuh keakraban, mencerminkan kebersamaan umat dalam menghidupi iman.

Dalam pengantar ibadat, umat diajak merenungkan keteladanan Yohanes Pembaptis melalui ungkapan yang sarat makna, “Ia harus makin besar, tetapi aku makin kecil.” Kalimat ini menjadi refleksi mendalam yang menantang ego manusia sekaligus membebaskan dari kecenderungan mencari pujian dan pengakuan diri—yang kerap menjadi “berhala modern” dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian ibadat dilanjutkan dengan pernyataan tobat, doa pembuka, serta bacaan Kitab Suci dari 1 Yohanes 5:14–21, Mazmur Tanggapan dari kitab Mazmur 149, dan Injil Yohanes 3:22–30 yang menegaskan sukacita sebagai sahabat mempelai.

Dalam renungannya, pemimpin ibadat menekankan tiga pokok penting: menemukan sukacita sebagai “sahabat mempelai”, kewaspadaan terhadap berhala modern, serta kerendahan hati yang berjiwa besar. Menjadi “makin kecil” tidak berarti lemah, pasif, atau kehilangan makna diri, melainkan sebuah kekuatan sejati yang lahir dari ketergantungan penuh pada Tuhan. Orang yang rendah hati justru memiliki keteguhan batin, karena tidak lagi bergantung pada penilaian manusia, melainkan pada kasih dan penyertaan Allah. Dalam kehidupan lingkungan, sikap ini diwujudkan melalui kesediaan melayani dengan tulus, keberanian untuk meminta maaf lebih dahulu, serta kerelaan memberi ruang bagi sesama—terutama generasi muda—untuk bertumbuh dan berperan.

Ibadat diakhiri dengan Doa Umat, Doa Bapa Kami, doa penutup, berkat, serta lagu penutup. Namun kebersamaan tidak berhenti di sana; umat melanjutkan dengan ramah tamah sederhana sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Momen ini semakin mempererat persaudaraan dan menjadi tanda nyata bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam doa, tetapi juga dihidupi dalam kebersamaan yang hangat dan penuh kasih.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Bonfilio Febri Priyambodo

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *