041 St. Bartolomeus Brintikan: Merekatkan Relasi dengan Allah

Umat Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan kembali merajut kebersamaan dalam Sarasehan keempat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Tahun 2025, yang berlangsung pada hari Minggu, 28 September 2025 pukul 19.00 WIB di kediaman keluarga Maria Magdalena Dyah Kustorini, Dusun Sanan Brintikan RT 03, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Pertemuan iman ini dipandu dengan penuh ketulusan oleh prodiakon FX. Risang Baskara dan dihadiri oleh dua puluh umat yang hadir dengan semangat sukacita.

Suasana sarasehan diawali dengan lantunan syukur melalui lagu “Curahkan Rahmat” (PS. 603) bait pertama dan kedua yang dipandu Ketua Lingkungan, FX. Kristiyanto Nugroho. Tema yang diangkat kali ini adalah “Pembaruan Relasi dengan Allah”, berlandaskan Kitab Maleakhi 3:13–18 yang dibacakan oleh Santi.

Dalam pengantarnya, Risang menjelaskan makna nama Maleakhi yang berarti “utusan-Ku” atau “pembawa pesan-Ku”. Inti nubuat kitab ini menegaskan panggilan Allah agar umat bertobat dan memperbarui relasi dengan-Nya, sebab mereka telah kehilangan semangat iman dan hidup dalam ketidaksetiaan.

Bacaan dalam sarasehan keempat ini menghadirkan dua gambaran kelompok umat: mereka yang berkata bahwa sia-sialah beribadah kepada Tuhan, dan mereka yang tetap takut akan Tuhan. Kepada kelompok yang setia dan takut akan Dia, Tuhan memberikan dua janji indah: menjadikan mereka milik kesayangan-Nya sendiri (ayat 17) dan menuliskan nama mereka dalam kitab peringatan di hadapan-Nya (ayat 16).

Pertemuan semakin hangat saat pemandu mengajak umat berbagi pengalaman dan refleksi: bagaimana sikap kelompok pertama, bagaimana teladan kelompok kedua, serta bagaimana peran Paguyuban dalam menumbuhkan relasi umat lingkungan dengan Allah. Dalam doa umat, setiap peserta juga diberi kesempatan untuk menyampaikan permohonan dan pergumulan pribadi, sehingga doa bersama menjadi sangat hidup dan menyentuh.

Setelah doa penutup dan doa berkat, akhirnya sarasehan ditutup dengan menyanyikan lagu “Curahkan Rahmat” bait ketiga dan keempat. Sebelum berpisah, umat disambut hangat oleh tuan rumah dengan minuman dan makanan ringan. Kehangatan bersama tersebut menutup perjumpaan rohani dengan rasa syukur, kebersamaan, dan semangat baru untuk terus memperbarui relasi dengan Allah.

Catatan : Foto dikirim oleh Bernadeta Apik Dwiyati

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *