Minggu siang, 14 Juni 2026. Tawa dan canda memenuhi sebuah rumah makan di kawasan Kalasan, Sleman. Dua puluh tiga anak dari Gereja Santo Yusup Berbah (GSBY) berkumpul dengan wajah-wajah ceria. Sebagian bercengkerama dengan teman-temannya, sebagian lainnya antusias mengikuti berbagai permainan yang telah disiapkan panitia.
Kegembiraan itu bukan tanpa alasan. Seminggu sebelumnya, tepat pada tanggal 7 Juni 2026, mereka menerima Sakramen Komuni Pertama di Gereja Maria Marganingsih Kalasan. Bersama sekitar 120 anak lainnya, mereka untuk pertama kalinya menerima Tubuh Kristus dari Romo Fransiscus Xaverius Murdi Susanto, Pr., bertepatan dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Bagi umat Katolik, Komuni Pertama merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan iman. Melalui Ekaristi, anak-anak dipersatukan secara lebih mendalam dengan Kristus dan diajak mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.
Salah satu peserta Komuni Pertama itu adalah Marcella Belania Kerin Kirana, yang akrab dipanggil Kerin. Siang itu Kerin tampak menikmati seluruh rangkaian kegiatan.
“Seru, seru. Nggak membosankan,” sambil tersenyum.
Kerin dan teman-temannya berkumpul bukan sekedar untuk makan bersama. Mereka mengikuti kegiatan Mistagogi, tahap akhir dari rangkaian pelatihan Komuni Pertama yang telah berlangsung hampir sembilan bulan. Selama proses tersebut mereka didampingi dengan penuh kesabaran oleh para pembimbing, yakni Bu Yuli, Bu Monik, dan Mbak Monik.
*Belajar Mengenal Kristus Lebih Dekat*
Sebagai narasumber, hadir Bruder Egidius MTB, yang akrab disapa Br. Egisdius Heronimus Miki, MTB. Saya memulai sesi dengan pertanyaan sederhana.
“Bagaimana rasanya setelah menerima Tubuh Kristus?” tanyanya.
Seorang anak spontan menjawab, “Rasanya agak asem-asem begitu, Bruder.”
Jawaban polos itu langsung disambut gelak tawa peserta dan para pendamping. Memang, pada perayaan Komuni Pertama, hosti yang diterima anak-anak dicelupkan ke dalam anggur konsekrasi sehingga meninggalkan rasa yang sedikit berbeda.
Namun bagi Bruder Egi, pengalaman menerima Ekaristi tidak berhenti pada rasa yang dirasakan lidah. Yang lebih penting adalah membantu anak-anak memahami bahwa mereka telah menerima Kristus sendiri dalam Sakramen Ekaristi.
Karena itu kegiatan dikemas secara santai dan menyenangkan melalui permainan, diskusi, cerita, dan refleksi sederhana. Pendekatan tersebut membuat anak-anak lebih mudah memahami pengalaman rohani yang baru saja alami mereka.
*Menuntun Masuk ke Dalam Misteri*
Dalam tradisi Gereja Katolik, mistagogi merupakan tahap pendalaman iman setelah seseorang menerima sakramen. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani mystagogia yang berarti “menuntun masuk ke dalam misteri”.
Melalui mistagogi, anak-anak diajak merefleksikan pengalaman menerima Tubuh Kristus, memahami makna Ekaristi secara lebih mendalam, dan membangun kebiasaan hidup sebagai murid Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, Komuni Pertama bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari kehidupan iman yang lebih dewasa. Anak-anak diajak untuk semakin mencintai Misa Kudus, membangun kebiasaan berdoa, serta menghidupi nilai-nilai Injil dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulan mereka.

*Perjalanan Sembilan Bulan*
Ketua Wilayah Santo Fransiskus Xaverius, Agustina Herlina Yustanti, S.Kep., Ners., mengungkapkan rasa terima kasihnya atas seluruh proses yang telah dilalui.
“Kami sangat bersyukur dan bangga karena seluruh peserta yang berjumlah 23 anak mengikuti proses ini dengan tekun dan semangat. Semuanya dinyatakan lulus dan telah layak menerima Sakramen Komuni Pertama pada 7 Juni 2026,” ujarnya.
Menurut Herlina, perjalanan iman itu tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Selama sembilan bulan, anak-anak mengikuti katekese, belajar doa dan sakramen, mengunjungi Seminari Kentungan untuk mengenal kehidupan para seminaris, serta mengikuti rekoleksi bersama peserta Komuni Pertama se-Paroki Maria Marganingsih Kalasan.
“Melalui proses ini iman dan kebersamaan mereka sungguh-sungguh bertumbuh,” katanya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para pembimbing yang dengan penuh kasih mendampingi anak-anak sejak awal hingga akhir.
“Kepada Bu Theresia Yuliastitie, Bu Monica Monalisa Agus Wibowo, Bu Rita Tri Ambarwati, dan Bu Valentina Sugiamir dan semua yang terlibat aktif dalam mempersiapkan Komuni Pertama anak-anak kami, kami mengucapkan limpah terima kasih,” ujarnya.

*Benih Iman yang Mulai Bertumbuh*
Di hadapan anak-anak, Herlina mengingatkan bahwa Komuni Pertama bukanlah garis akhir.
“Saya mengucapkan selamat kepada anak-anak yang telah menerima Komuni Pertama. Semoga kalian semakin bertumbuh dalam iman dan semakin mencintai Ekaristi. Rajin-rajinlah ke gereja untuk menerima Tubuh Kristus,” pesannya.
Pesan sederhana itu menjadi inti dari seluruh proses pelatihan yang telah berlangsung selama sembilan bulan. Tujuannya bukan sekadar agar anak-anak dapat berdiri di depan altar pada hari Komuni Pertama, melainkan agar mereka terus berjalan bersama Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Siang itu, di tengah suasana hangat penuh tawa dan syukur, mungkin anak-anak belum sepenuhnya memahami makna besar perjalanan yang sedang mereka jalani. Namun benih iman telah ditanam.
Kini tugas orang tua, pembimbing, dan Gereja terus menyiraminya dengan kasih, teladan, dan doa. Dengan demikian, benih yang mulai bertunas setelah Komuni Pertama itu dapat tumbuh menjadi iman yang kokoh, dimasukkan ke dalam Kristus, dan berbuah bagi sesama.
Catatan : Ditulis oleh Yustinus Ade, dikirim oleh Nova Ardianti




