401 St. Benediktus Perum Pertamina: Melihat Kebahagiaan Lewat Sabda: Pembukaan BKSN Lingkungan Benediktus Perum Pertamina

Memasuki bulan September, umat Katolik merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema BKSN tahun ini adalah “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius”. BKSN sendiri menjadi momentum bagi umat Katolik untuk mengenal Yesus sebagai seorang guru dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya yang menghadirkan pencerahan, membangun kepribadian, menyegarkan jiwa, menghibur segala kesedihan, serta membangun hidup kita menjadi lebih baik. 

Pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) di Lingkungan Benediktus Perum Pertamina dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026, pukul 19.00 WIB bertempat di kediaman Keluarga Murni Supandi. Pertemuan pertama yang mengusung tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Bahagia” ini dipimpin oleh Tim Kelompok 4 yang terdiri dari Andreas Budi Santosa, Ignatius Paningal Affandi, dan Veronika Tri Wahyuni. Kurang lebih 18 umat yang hadir pada malam ini. Suasana hangat diawali dengan nyanyian lagu pembuka “Aku Bahagia”. Pada kesempatan ini, Veronika Tri Wahyuni mengajak seluruh umat yang hadir untuk bernyanyi bersama sembari memperagakan gerakan-gerakan ringan dalam posisi duduk, layaknya dinamika lagu Sekolah Minggu.

Dalam pertemuan pertama ini, umat diajak untuk mendengarkan Yesus, guru yang penuh kuasa, yang menyingkapkan makna hidup yang sejati melalui sabda-sabda bahagia. Dalam ARDAS kata bahagia mengarahkan kita pada Gereja bahagia karena memiliki dasar yang kokoh, yaitu keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah dalam Yesus Kristus. Kita bahagia karena telah ditebus, diampuni, dan diselamatkan. 

Bacaan Injil Matius 5:1–12 dibacakan oleh Ignatius Paningal Affandi. Setelah itu, Andreas Budi Santosa memandu sesi pendalaman teks dengan mengajak umat merespons sejumlah pernyataan terkait kebahagiaan. Umat diajak terlibat aktif dengan mengangkat tangan kanan jika merasa bahagia atas pernyataan yang disampaikan, dan mengangkat tangan kiri jika tidak.

Pernyataan pertama: Punya banyak uang tetapi tidak punya banyak waktu bersama keluarga. Beberapa umat mengangkat tangan kanan dan yang lainnya mengangkat tangan kiri. 

Elisabet, salah satu umat yang mengangkat tangan tangan kanan menjawab, “In this economi semua serba mahal. Bagi saya yang sedang studi dan membutuhkan banyak biaya untuk penelitian dan lain sebagainya, jadi money oriented ya sekarang. Jadi ketika ketiban durian runtuh, tapi tidak punya waktu untuk keluarga saat ini tidak menjadi masalah. Yang penting ada yang dihasilkan walaupun waktu bersama keluarga agak berkurang.”

Sementara Petrus Purwanto yang mengangkat tangan kiri menyatakan bahwa, “Karena kita hidup dalam keluarga yang rukun, damai, penuh sukacita itu juga suatu kebahagiaan. Kita (bisa) lihat petani-petani juga terlihat bahagia, walaupun mereka tidak punya banyak uang. Orang-orang yang punya banyak uang juga belum tentu mereka bahagia. Anak-anaknya ternyata kecanduan narkoba, hidup secara bebas.”

Pernyataan kedua: Tidak punya banyak uang tetapi keluarga rukun, bahagia atau tidak? Banyak umat yang mengangkat tangan kiri. Pernyataan ketiga: Punya jabatan tinggi, tetapi setiap hari merasa tertekan. Bahagia atau tidak? Banyak umat yang mengangkat tangan kiri, karena kebanyakan umat merasa di Yogyakarta yang terbiasa slow living tidak banyak orang yang ingin memiliki jabatan tinggi. Berbeda dengan kota-kota yang lain.

Pernyataan keempat: Sering membantu orang lain, tetapi tidak pernah mendapat pujian. Bahagia atau tidak? Kebanyakan umat mengangkat tangan kanan. Pernyataan kelima: Disakiti seseorang, tetapi memilih mengampuni. Bahagia atau tidak? Kebanyakan umat merasa agak sulit menjawab pernyataan ini, karena mengampuni seseorang memerlukan waktu. Karena hal yang paling sulit dilakukan dalam kehidupan adalah mengampuni.

Pernyataan keenam: Sedang mengalami masalah, tetapi tetap percaya Tuhan akan menyertai. Bahagia atau tidak? Kebanyakan umat mengangkat tangan kanan. Pernyataan ketujuh: Kehilangan sesuatu yang berharga, tetapi tetap memiliki pengharapan pada Tuhan. Bahagia atau tidak? Seluruh umat mengangkat tangan kanan.

Kebahagiaan itu sifatnya relatif. Seperti dalam bacaan Injil Matius 5:1-12 kita harus bahagia, sebagai orang yang dianggap miskin di hadapan Allah, karena kita pasti akan mendapatkan kerajaan surga. Tuhan memberikan kita pengharapan akan kabar bahagia. 

Kegiatan dilanjutkan dengan sharing umat mengenai kebiasaan khas umat Katolik yang membuat bahagia dalam lingkungan. Maria Magdalena Ariyani merasa bahagia pada saat ia bersama umat yang lain melakukan kunjugan. “Saya lihat dari keluarga yang kita kujungi, merasa bahagia sekali. Mungkin mereka merasa-dalam bahasa Jawa diuwongke, disapa, dianggap sebagai anggota keluarga lingkungan Benediktus,” ujarnya.

Maria Magdalena Ariyani juga mengajak umat yang hadir untuk mengunjungi umat-umat yang sedang sakit, yang belum bisa bergabung dalam kegiatan lingkungan.

Kegiatan dilanjutkan dengan doa permohonan (doa umat), Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, dan Mohon pertolongan Bunda Maria bagi pembangunan gereja dan kawasan terpadu Kalasan. Pertemuan malam ini ditutup dengan doa penutup dan lagu penutup Alangkah Bahagianya. 

Pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di Lingkungan Benediktus berlangsung hangat dan interaktif melalui pendalaman sabda bahagia dari Injil Matius 5:1–12. Lewat dinamika respons pertanyaan serta berbagi pengalaman iman bersama, umat diajak merefleksikan makna kebahagiaan sejati yang sesungguhnya berakar pada keselamatan dan pengharapan kepada Tuhan.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Catharina Novia C

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *