
Pada hari Rabu 10 September 2025 pukul 18.30 WIB dilaksanakan Doa lingkungan dan Pertemuan pertama BKSN. Pertemuan kali ini dilaksanakan di rumah Keluarga Andri Sebastian di Blok Gampar Lingkungan Petrus Damianus dan dipimpin oleh Bayu Toni selaku Prodiakon. Sebelum ibadat dimulai seperti biasa masing masing seksi atau pengurus lingkungan secara rutin melaporkan kegiatan keuangan seperti arisan, prolenan, iuran pendidikan, simpan pinjam dll. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap bulan.

Dalama Ibadat dan sharing BKSN pertama dibahas mengenai refleksi tentang bagaimana kita bisa memperbarui hubungan dengan diri sendiri. Misalnya: introspeksi, pertobatan pribadi, kesadaran akan kelemahan, dan bagaimana Allah mengundang orang percaya untuk datang kembali kepada-Nya. Dalam pertemuan itu juga dijelaskan tentang peran dua nabi: Pada pertemuan pertama tema adalah “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri”, dan bacaan pokok yang digunakan adalah Zakaria 1:1‑6. Nabi Zakharia adalah salah satu nabi kecil setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babel. Dia berkhotbah sekaligus mengajak umat Israel supaya bertobat, kembali kepada Allah, dan meninggalkan tingkah laku yang tidak benar. Dalam konteks Zakaria 1: 1‑6, seruannya adalah agar umat menyadari bahwa mereka telah menjauh, bahu-membahu hidup dalam kesalahan, dan mereka dipanggil untuk memperbarui diri: mengubah hati, memperbaiki kesalahan, membuka jalan bagi Allah kembali masuk dalam kehidupan. Nabi Maleakhi diperkenalkan sebagai nabi yang datang setelah pembangunan kembali Bait Allah, dan melanjutkan seruan kenabian untuk pembaruan hidup umat Israel setelah mereka kembali dari pembuangan. Walaupun dalam pertemuan pertama fokusnya lebih pada Zakharia, Maleakhi hadir dalam keseluruhan tema besar BKSN 2025 sebagai figur suara yang mengingatkan umat terhadap hubungan dengan Allah, sesama, diri sendiri dan keluarga. Kedua nabi ini dipilih karena mengingatkan umat bahwa pembaruan relasi itu perlu secara menyeluruh: bukan hanya hubungan dengan Tuhan saja, tetapi juga dengan diri sendiri, sesama, dan keluarga. Banyak hambatan kita jumpai dalam melakukan pertobatan seperti yang disharingkan yaitu: Banyak orang sulit mengakui kesalahan karena tak mau terlihat lemah, Pertobatan sering berarti harus mengubah gaya hidup, meninggalkan relasi buruk, bahkan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Banyak orang takut konsekuensi sosial atau emosionalnya, Tanpa hubungan yang hidup dengan Tuhan (lewat doa, firman, sakramen), hati mudah dingin dan menjauh.

Pertemuan kemudian ditutup pada pukul 20.45 WIB sambil menikmati snack yang sudah disediakan oleh pemilik rumah.
Catatan: Tulisan dan foto dikirim oleh Ch Lusi Apriwidiyanti



