Umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir kembali bersekutu dalam Doa Rosario di hari ke duapuluh tiga. Persekutuan kali ini, pada hari Kamis tanggal 23 Oktober 2025 pukul tujuh malam, dilaksanakan di rumah Christiana Wiwik Kinasih. Dihadiri oleh 21 umat, termasuk anak-anak. Diawali dengan ibadat pembuka oleh RB Maryanto, dilanjutkan dengan pendarasan doa Rosario yang dipandu oleh Enik dan kutipan perikop Injil dalam setiap peristiwa secara bergantian oleh anak-anak.

Dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (Rosario Perawan Maria), Paus Yohanes Paulus II menulis, “Rosario dimulai dengan pengalaman Maria sendiri. Justru karena ini, rosario merupakan doa kontemplatif yang sangat indah. Tanpa dimensi kontemplatif ini, doa rosario akan kehilangan maknanya. Hal ini dengan tegas ditandaskan oleh Paus Paulus VI: Tanpa kontemplasi, doa rosario menjadi ibarat tubuh tanpa jiwa, dan ada bahaya bahwa pendarasannya akan menjadi pengulangan kata-kata secara mekanis. Rosario yang didasarkan pada pengulangan, mensyaratkan suatu iman yang hidup dan kasih yang tulus mesra kepada Kristus sang Penebus dan kepada bunda-Nya, Santa Perawan Maria.Mendaraskan doa Salam Maria berulang-ulang memang terkadang membuat pikiran kita melayang-layang, terbang entah ke mana. Tetapi berdoa bagaimanapun bukan sekadar komat-kamit, mengucapkan kata tanpa makna. Berdoa adalah mengarahkan hati kepada Tuhan. Dengan mengulang-ngulang salam Malaikat Grabriel kepada Maria, kita dapat meresapkan arti kata itu dalam hati. Doa ini adalah suatu salam penuh hormat dari Allah sendiri dengan perantaraan Malaikat Gabriel, utusan-Nya, untuk menyatakan pengangkatan luhur Maria, “Salam Maria penuh Rahmat, Tuhan sertamu” yang diikuti kemudian dengan kata-kata yang diilhami Roh Kudus yang diucapkan oleh Elisabet kepada Maria, “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah Buah Tubuhmu, Yesus.” Dan akhirnya, Gereja menambahkan doa yang. Sederhana, “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”





