
Mambaca Inspirasi dari Coretan, Kadirojo 3/12/25. Sarasehan Adven ll berlangsung dalam suka cita bersama. Dalam tujuh kelompok yang secara acak dibentuk, peserta sarasehan berdinamika dengan media kertas dan spidol. Tugasnya sederhana: dalam setiap kelompok, satu per satu akan membuat satu goresan spidol di atas kertas HVS. Urut kacang. Goresan boleh garis lurus. Boleh garis melengkung. Tidak boleh ada komunikasi verbal. Tujuannya, mereka saling belajar membaca via goresan teman-teman satu kelompok. Hasilnya? Yang paling cantik adalah dari Keluarga Pak/Bu Jarot. Barangkali karena memang sedang beruntung, pasutri Jarot kok ya bisa gabung jadi satu kelompok. Hasilnya adalah sebuah payung cantik yang mengembang. Siap untuk melindungi dari hujan. Mereka patuh pada aturan. Mereka membaca inspirasi dari goresan. Tanpa ada kata-kata. Yang cukup mengejutkan adalah 4 kelompok menghasilkan gambar gereja. Kenapa demikian? Sepertinya karena memang Gereja adalah rumah istimewa yang menyatukan. Dua yang lain adalah gambar orang minimalis, dan bintang “kesamber bledheg”. Namun, yang banyak menghadirkan kesadaran baru adalah yang kedua. “Awalnya, sesudah jadi bintangnya, saya bayangkan akan buat pohon Natal. Tetapi, Pak Muji malah membuat sawah,” celoteh Pak Tyas, diselingi gelak tawa ringan. Yang pasti, kalau ada label “gagal”, gambar bintang dan sawah (yang kesamber bledheg) itulah yang mendapatkan labelnya. Untung, tidak ada label gagal. Yang ada adalah refleksi atas pengalaman “slenco”, saling tidak bisa memahami apa yang dibayangkan orang lain.

Betapa tidak mudah untuk mengambil inspirasi dari orang lain. Dibutuhkan ruang yang luas untuk berimajinasi. Sikap lentur untuk siap menyelesaikan diri. Keberanian untuk mengakui ada cara berpikir dan bertindak yang berbeda – tanpa harus membabi buta memaksakan kebenaran diri sendiri. Inspirasi datang dari sikap terbuka, termasuk saat vulnerability kita terkuak. Itulah refleksi hari ini. Markus Budiraharjo Pemandu Adven ll.

Catatan: Tulisan dan foto oleh Marcus Wishnuhandoko



