Minggu pagi, 30 November 2025, Lapangan Temanggal terasa lebih hidup dari biasanya. Sinar matahari masih lembut, tetapi suasana sudah dipenuhi senyum, sapa hangat, dan langkah penuh harapan. Hari itu, umat Lingkungan St. Petrus Temanggal mengadakan ziarah bersama ke Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih. Sebanyak 52 umat dari berbagai usia turut serta, menunjukkan bahwa semangat berziarah tidak mengenal batas generasi.

Sekitar pukul 06.30, umat mulai berkumpul di sisi timur lapangan Temanggal. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang saling menjemput, dan ada yang masih sibuk menyiapkan sarana prasarana yang akan digunakan dalam berziarah. Di balik keramaian itu, para ibu lingkungan ternyata sudah bangun sejak dini hari untuk menyiapkan konsumsi yang akan disantap bersama. Sebuah pelayanan sederhana, namun terasa penuh cinta. Pukul 07.30, delapan mobil mulai berangkat. Sebelum memulai perjalanan, umat diajak berdoa bersama dipimpin oleh Yohanes Dimas Nugroho. Setelah itu, foto bersama menjadi penanda momen awal kebersamaan, sebelum semua bergerak menuju tujuan dengan hati gembira. Perjalanan sekitar 50 menit terasa singkat. Setibanya di Sendang Jatiningsih, suasana tenang langsung menyambut. Udara sejuk, angin berhembus pelan, dan dari kejauhan terdengar gemericik Sungai Progo yang mengalir lembut. Suasananya begitu damai, seolah tempat ini mengundang siapapun untuk berhenti sejenak dan benar-benar hadir dalam doa. Ziarah dimulai dengan doa Jalan Salib bersama. Mas Dimas memimpin bagian awal, lalu ditutup oleh Bapak Yusup Indrianto. Keduanya melayani dengan penuh ketulusan sebagai prodiakon lingkungan. Tiap perhentian telah dipandu oleh umat yang ditugaskan, sehingga semua merasa terlibat. Untuk para lansia, disediakan kesempatan berdoa langsung di depan Gua Maria agar tetap dapat mengikuti dengan nyaman. Perhatian kecil ini memperlihatkan bagaimana iman dan kepedulian berjalan berdampingan. Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi. Ada yang menyalakan lilin sambil membawa harapan tertentu, ada yang berdoa dalam diam, dan ada yang menatap patung Bunda Maria dengan mata berbinar atau berkaca-kaca. Di momen ini terasa jelas bahwa setiap orang datang dengan cerita, pergumulan, dan ucapan syukur masing-masing. Sekitar pukul 10.00, suasana kembali hangat ketika umat berkumpul di aula untuk makan siang dan menikmati camilan. Tawa terdengar bersahutan, obrolan ringan mengalir, dan anak-anak mulai bermain dan saling bercanda. Rasanya seperti makan bersama dalam satu keluarga besar.

Sekitar pukul 11.00, rombongan kembali pulang menuju Temanggal. Perjalanan pulang terasa tenang, namun hati terasa penuh. Ada damai yang sulit dijelaskan, dan syukur yang muncul begitu alami. Ziarah ini bukan hanya perjalanan fisik menuju tempat suci, tetapi juga perjalanan batin sebagai satu persekutuan umat. Selain menjadi bagian dari program lingkungan yang sebelumnya tertunda, kegiatan ini juga menjadi momen yang pas menjelang masa kepengurusan baru. Melalui langkah, doa, dan kebersamaan, umat belajar bahwa Gereja bukan hanya tempat, tetapi hidup ketika umat berjalan bersama dalam pelayanan, persaudaraan, dan iman. Semoga kebersamaan ini terus tumbuh dan menjadi berkat bagi Lingkungan St. Petrus Temanggal. Hadir bersama. Bertumbuh bersama. Mendoa bersama. Sebagai satu keluarga Allah.

Catatan: Tulisan dan foto oleh Yohanes Dimas Nugroho



