
Doa Rosario bagi Jiwa-jiwa Kudus di Api Penyucian mengawali rangkaian peringatan 40 Hari Bapak Antonius Triyatno menghadap Allah Bapa di Surga. Tidak kurang dari lima puluh-an umat telah hadir pada pukul 7 (tujuh) malam untuk bersama-sama mendaraskan doa rosario tersebut dengan ujub khusus untuk kedamaian jiwa almarhum. Tentu saja juga bagi jiwa-jiwa umat beriman yang saat ini masih berada di api penyucian. Tradisi doa rosario ini sudah beberapa dekade menjadi tradisi yang dibangun oleh umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir setiap kali doa memule memperingati umat lingkungan yang telah berpulang. Pada saat selesai mendaraskan doa rosario, sekitar 100 (seratus) umat, baik umat LGAK maupun para suster SFD dan umat dari lingkungan tetangga, yang akan mengikuti Misa Memule telah hadir di rumah keluarga Maria Magdalena Supraptiwi.

Tepat pukul 19.30 WIB Misa Memule mengenang 40 hari Bapak Antonius berpulang dimulai. Diawali dengan kidung pembuka oleh kelompok koor KMP Berbah. Suaranya menggema memecah keheningan malam di dusun Kaliajir Lor, dan mengantar semua umat memasuki suasana hening dan khusyuk dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dalam homily Romo Ngatmo mengungkapkan bahwa, “Empat puluh hari adalah waktu yang singkat. Rasanya baru kemarin almarhum mengikuti misa pagi di Gereja Kalasan. Sebagaimana hidup kita, yang sejatinya hanya sebentar, hingga saatnya kita pun nanti akan berpulang. Sudah seharusnya kita jalani dengan hal-hal yang bermanfaat agar pada saat kita dipanggil nanti sudah siap secara rohani.” Hal ini sekaligus mengingatkan kita semua untuk selalu menyiapkan batin agar sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Bagaimana caranya? Taatilah sepuluh (10) perintah Allah dan lima (5) perintah Gereja. Tidak mudah, tetapi dengan berserah pada Tuhan dan berusaha berbuat baik niscaya Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita. Sebelum berkat penutup, Romo Ngatmo memberkati bunga tabur yang akan digunakan untuk nyekar ke makam almarhum, dengan harapan kebaikan almarhum akan tetap harum semerbak dan menjadi warisan luhur yang akan dilanjutkan oleh kedua putrinya yaitu Astri Meirinawati dan Irene Yosi Agung Kristanti, juga Ignatius Ardi Laksana menantunya, serta Elisabeth Arrasel Laksana dan Irene Arwita Gita Laksana cucunya.

Seusai Misa Memule, Romo Yohanes Ngatmo berkenan menemani keluarga beramah tamah bersama beberapa umat yang masih tinggal. Sementara umat yang lain satu demi satu pamit pulang membawa kelegaan, kegembiraan dalam iman, dan kedamaian dalam persekutuan yang akan diwartakan. Kedamaian dan sukacita yang selalu dirasakan oleh umat yang hadir dalam persekutuan iman, baik dalam Perayaan Ekaristi maupun dalam pendalaman iman atau kebersamaan dalam iman.





