041 St. Bartolomeus Brintikan: Penghiburan Iman di Tengah Duka Umat Lingkungan

Ibadat tuguran atas berpulangnya Marcelinus Yunanto dilaksanakan dalam suasana duka yang mendalam di Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan. Umat kehilangan sosok yang selama ini dikenal sederhana, setia, dan penuh dedikasi dalam kehidupan menggereja. Yunanto dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada hari Rabu, 15 April 2026 pukul 16.00 WIB di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, setelah cukup lama berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Dalam usia 68 tahun, beliau mengakhiri peziarahan hidupnya di dunia, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang dikasihi. Sebelum wafat, almarhum diketahui rutin menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu sebagai bagian dari ikhtiar pengobatan.

Semasa hidupnya, mendiang dikenal sebagai pribadi yang aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan. Dedikasinya secara khusus tampak dalam pelayanan koor, di mana beliau dengan setia ambil bagian dalam memeriahkan peribadatan melalui nyanyian pujian. Kepergiannya tentu menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi umat Lingkungan Santo Bartolomeus yang telah merasakan kehadiran dan kontribusinya.

Ibadat tuguran dilaksanakan pada pukul 20.30 WIB di rumah duka yang beralamat di Dusun Brintikan RT 03, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Ibadat dipimpin oleh Prodiakon FX. Risang Baskara dan dihadiri kurang lebih 35 umat lingkungan. Perayaan doa diawali dengan lagu pujian “Hanya Kepada-Mu” dari Madah Bakti No. 80, yang mengantar umat masuk dalam suasana doa dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Dalam renungannya yang mengacu pada Kitab I Tesalonika 4:3–14, 17b–18, prodiakon mengajak seluruh umat untuk tetap hidup dalam kekudusan, saling mengasihi, serta memelihara pengharapan iman di tengah situasi duka. Ditekankan bahwa sebagai orang beriman, umat tidak perlu larut dalam kesedihan seperti mereka yang tidak memiliki harapan, sebab iman akan kebangkitan memberikan penghiburan sejati. Rasul Paulus mengingatkan bahwa mereka yang meninggal dalam Kristus tidak akan hilang, melainkan akan dibangkitkan dan dipersatukan kembali dengan Tuhan. Harapan akan kehidupan kekal inilah yang menjadi kekuatan bagi umat dalam menghadapi kenyataan kematian.

Pada kesempatan tersebut, doa Koronka Kerahiman Ilahi dipimpin oleh Maria Theresia Sri Wahyunani, yang semakin memperdalam suasana doa dan penyerahan jiwa almarhum ke dalam kerahiman Tuhan. Umat bersama-sama memohon agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Bapa di Surga.

Kepergian Marcelinus Yunanto meninggalkan duka yang mendalam, baik bagi keluarga maupun seluruh umat lingkungan. Namun demikian, dalam terang iman Kristiani, kematian dipahami bukan sebagai akhir, melainkan sebagai pintu menuju kehidupan kekal. Keyakinan bahwa setiap orang yang percaya akan dipanggil untuk hidup bersama Tuhan menjadi penghiburan yang meneguhkan hati. Ibadat tuguran malam itu pun ditutup dengan lagu “Nderek Dewi Mariyah,” yang mengantar doa dan harapan umat agar almarhum memperoleh damai abadi dalam pelukan kasih Tuhan.

Catatan : Foto dikirim oleh Bonfilio Febri Priyambodo

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *