Kalasan, 4 Oktober 2026 — Pertemuan rutin Bidang Pewartaan Paroki Maria Marganingsih Kalasan biasanya menjadi ruang untuk berkoordinasi, berbagi informasi, dan menyampaikan laporan dari masing-masing tim pelayanan. Namun mulai Oktober 2026, ada sesuatu yang berbeda. Mulai bulan ini pertemuan rutin di kemas dengan inovasi baru: “Sinau Bareng”. Bukan sekadar menambah materi, Sinau Bareng menjadi ruang bagi para pewarta untuk saling belajar, saling berbagi, sekaligus berani mempraktikkan apa yang sudah dipelajari.
Gagasan Sinau Bareng lahir dari kesadaran sederhana: setiap tim pelayanan atau tim pelaksana (timpel) di Bidang Pewartaan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berharga.
Jika pengetahuan itu hanya berhenti pada satu tim pelayanan (timpel), manfaatnya menjadi terbatas. Karena itu, mulai Oktober, pemandu pertemuan dan narasumber Sinau Bareng akan bergantian dari timpel-timpel yang ada di Bidang Pewartaan.
Dengan demikian, setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk belajar sekaligus mencoba.
Belajar berbicara dengan baik. Belajar memimpin. Belajar mendengarkan. Dan yang tidak kalah penting, belajar berbagi.

Bukan hanya berbagi materi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempraktikkan kemampuan public speaking yang sebelumnya telah dipelajari. Para pewarta mendapat kesempatan untuk memandu pertemuan, membangun suasana, menyampaikan materi, dan berinteraksi langsung dengan peserta.
Semangat ini sejalan dengan motto pewarta:
“Lungguh Bareng, Rembug Bareng, Mutusi Bareng, lan Nandhangi Bareng.”
Duduk bersama, bermusyawarah bersama, mengambil keputusan bersama, dan menjalankan keputusan bersama. Sebuah semangat kebersamaan yang membuat setiap pewarta memiliki ruang untuk berkontribusi dan bertanggung jawab.
Oktober: Belajar Memahami Iman Katolik

Sinau Bareng perdana dilaksanakan pada Minggu, 4 Oktober 2026, pukul 10.00–13.30.
Setelah masing-masing timpel menyampaikan laporan, suasana pertemuan kemudian beralih menjadi sesi Sinau Bareng dengan tema “Iman Katolik”.
Materi mengajak para pewarta memahami tiga sumber penting dalam kehidupan iman Katolik, yakni: Kitab Suci, Tradisi Suci Gereja, dan Magisterium.
Tema ini terasa relevan bagi para pewarta. Sebab sebelum mewartakan iman kepada orang lain, seorang pewarta perlu terus memperkaya dan memperdalam imannya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang dapat mewartakan sesuatu yang tidak terus-menerus ia pelajari?
Pertanyaan itulah yang secara tidak langsung menjadi semangat dalam Sinau Bareng kali ini.
Tema ini menjadi penting bagi para pewarta karena tugas mewartakan iman membutuhkan dasar yang kuat. Pewarta tidak hanya dituntut mampu menyampaikan, tetapi juga perlu terus memperdalam apa yang diwartakannya.
Belajar Tidak Harus Tegang

Suasana Sinau Bareng kali ini terasa berbeda. Timpel PIA bertugas sebagai pemandu pertemuan, sementara timpel Inisiasi menjadi narasumber.
Sesi pembuka berlangsung meriah. Gelak tawa memenuhi ruangan ketika pemandu membawa dinamika dengan gaya yang mengingatkan pada suasana sekolah minggu. Para peserta diajak bergerak, berinteraksi, dan menikmati proses belajar dengan cara yang ringan. Belajar bisa dilakukan dengan tertawa, bermain, berinteraksi, dan mengalami bersama.
Namun ketika memasuki materi, suasana berubah menjadi lebih serius. Para pewarta menyimak dengan penuh perhatian dan aktif mengajukan pertanyaan seputar dasar iman Katolik.
Perubahan suasana itu menunjukkan bahwa belajar iman bisa berlangsung serius tanpa kehilangan kegembiraan.
Dari Pewarta, Oleh Pewarta
Inilah semangat utama Sinau Bareng: pengetahuan tidak berhenti pada satu timpel.
Pengalaman pendampingan anak, remaja, inisiasi, Kitab Suci, komunikasi, maupun pelayanan lainnya dapat dibagikan dan diperkaya bersama.
Setiap pertemuan akhirnya bukan hanya menjadi agenda rutin, tetapi kesempatan untuk saling mengenal kemampuan, belajar dari pengalaman, dan berani mengambil peran.
Di sinilah motto “Lungguh Bareng, Rembug Bareng, Mutusi Bareng, lan Nandhangi Bareng” menemukan wujud nyatanya.
Menjadi Pewarta yang Bahagia, Inspiratif dan Menyejahterakan
Sinau Bareng Oktober menjadi langkah awal untuk membangun budaya belajar di Bidang Pewartaan. Dunia pewartaan terus berkembang, demikian pula cara Gereja hadir dan menyapa umat. Karena itu, para pewarta pun perlu terus memperbarui diri—bukan berjalan sendiri, tetapi bertumbuh bersama.
Mari jangan takut belajar, jangan ragu berbagi, dan jangan malu mencoba. Mari menjadikan setiap pertemuan sebagai ruang untuk saling menguatkan dan setiap pengetahuan sebagai bekal untuk melayani. Dunia pewartaan terus berubah. Anak-anak berubah. Remaja berubah. Keluarga berubah. Media komunikasi berubah. Cara orang menerima informasi juga berubah. Karena itu, pewarta pun harus terus belajar. Tidak cukup hanya pernah belajar. Tidak cukup hanya pernah mengikuti pelatihan. Pewarta dipanggil untuk terus memperbarui diri, berbagi pengalaman, dan berani mencoba cara-cara baru.
Sebab pewarta dipanggil bukan hanya untuk mewartakan, tetapi juga menghadirkan cara hidup Gereja yang bahagia, inspiratif dan menyejahterakan.
Bagi para pewarta, setiap pengetahuan adalah bekal, setiap pengalaman adalah kekayaan, dan setiap kesempatan untuk berbagi adalah bagian dari perutusan.
Dari pertemuan sederhana, semoga tumbuh pewarta yang semakin siap berjalan bersama umat: duduk bersama, berdiskusi bersama, memutuskan bersama, dan mengerjakan bersama. Lungguh bareng, rembug bareng, mutusi bareng, lan nandhangi bareng.
Mari terus melangkah bersama, membuka diri untuk belajar, saling menguatkan, dan menjadikan setiap pertemuan sebagai kesempatan untuk semakin siap mewartakan Kristus di tengah Gereja dan masyarakat.
Sinau bareng, bertumbuh bareng, menjadi pewarta yang bahagia, inspiratif dan menyejahterakan!
Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji rahayu




