Blotan, 10 Oktober 2026 — Sabtu pagi itu, beberapa remaja perwakilan wilayah Paroki Maria Marganingsih Kalasan mulai berdatangan ke Taman Doa Maria Oblat, Jl. Mawar No. 26, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Meski tidak datang dalam jumlah besar, langkah mereka membawa satu semangat yang sama: datang, berkumpul, berdoa, dan bertumbuh bersama dalam iman.
Pukul 10.00, suasana mulai terasa hangat. Para remaja saling menyapa dan berkenalan. Kehadiran mereka semakin lengkap ketika disambut oleh Romo Widi OMI. Senyum, sapaan, dan foto bersama menjadi awal sederhana dari sebuah perjalanan rohani.
Berjalan dalam Doa
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan Jalan Salib. Bukan sekadar berjalan dari satu perhentian ke perhentian berikutnya, para remaja diajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan melihat kembali perjalanan hidup mereka.
Di setiap perhentian, mereka diajak merenungkan perjalanan Yesus: tentang pengorbanan, kesetiaan, keberanian, dan kasih yang tidak menyerah.
Bagi para remaja, Jalan Salib menjadi sebuah pengingat bahwa hidup pun memiliki banyak “jalan terjal”. Ada saat ketika merasa lelah, kecewa, gagal, atau tidak dipahami. Namun, seperti Yesus yang terus melangkah, mereka pun diajak untuk tidak mudah menyerah.
Iman tidak selalu membuat jalan menjadi mudah, tetapi iman memberi kekuatan untuk terus berjalan.
Menemukan Ketenangan dalam Rosario
Setelah menyelesaikan Jalan Salib, rombongan memasuki kapel. Dalam suasana yang lebih hening, para remaja melanjutkan doa dengan Rosario.
Di tengah dunia yang semakin ramai dengan berbagai informasi, media sosial, tuntutan sekolah, pertemanan, dan berbagai persoalan anak muda, doa menjadi ruang untuk kembali menemukan ketenangan.
Rosario mengajak mereka untuk belajar satu hal sederhana: berhenti sejenak, mendengarkan Tuhan, dan menyerahkan perjalanan hidup kepada-Nya.
Iman yang Tidak Harus Selalu Serius

Usai berdoa, suasana berubah menjadi lebih cair. Para remaja berkumpul di aula OMI untuk berdinamika bersama.
Ada sapaan, canda, dan nyanyian yang membuat suasana semakin hidup. Ternyata, menjadi muda dalam Gereja tidak harus selalu dalam suasana yang formal dan serius.
Gereja juga adalah tempat untuk tertawa, bernyanyi, berteman, dan menjadi diri sendiri.
Kebersamaan sederhana itu menjadi kesempatan bagi para remaja untuk semakin mengenal satu sama lain. Dari sinilah tumbuh kesadaran bahwa perjalanan iman tidak harus dilakukan sendirian.

Berbagi dari Hati
Sebelum mengakhiri kunjungan, para remaja memberikan sedikit donasi kepada komunitas OMI berupa lilin dan hasil kolekte anak-anak.
Nilainya mungkin sederhana, tetapi maknanya jauh lebih besar. Sebab yang diberikan bukan hanya benda atau sejumlah uang, melainkan sebuah tanda terima kasih dan kepedulian.
Dari tangan-tangan muda itu, tersampaikan pesan sederhana:
“Apa yang kami punya mungkin tidak banyak, tetapi kami ingin ikut berbagi.”
Pulang Membawa Bekal

Sekitar pukul 12.00, kegiatan ziarah pun berakhir. Para remaja pulang bukan hanya membawa foto dan cerita, tetapi juga membawa pengalaman iman yang sederhana namun bermakna.
Ziarah hari itu mengajarkan bahwa perjalanan iman dapat dimulai dari hal-hal kecil: datang bersama, menyapa, berjalan dalam doa, berani hening, bernyanyi, tertawa, dan berbagi.
Mungkin hari itu hanya beberapa remaja yang hadir mewakili wilayah. Namun dari langkah-langkah kecil itulah Gereja masa depan sedang dibangun.
Sebab menjadi remaja Katolik bukan hanya tentang hadir di Gereja, tetapi tentang berani mengatakan:
Tuhan, aku mau berjalan bersama-Mu.
Dan mungkin, perjalanan itu baru saja dimulai.
Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu




