Merdeka Itu Saling Menguatkan: Lungguh Bareng, Rembug Bareng, Mutusi Bareng, Lan Nandangi Bareng

pertemuan bidang pewartaan

“Merdeka itu saling menguatkan.” Kalimat sederhana ini menjadi napas dalam pertemuan Bidang Pewartaan Gereja Maria Assumpta Maguwo (GMBA) dan Paroki Maria Marganingsih Kalasan (GMMK), Minggu, 2 Agustus 2026. Bertempat di Gereja Maria Assumpta Maguwo, pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini bukan sekadar agenda koordinasi, melainkan menjadi ruang untuk kembali menyadari bahwa pewartaan adalah panggilan bersama: lungguh bareng, rembuk bareng, mutusi bareng, lan nandangi bareng.

Di tengah semangat bulan kemerdekaan Republik Indonesia, para pewarta diajak melihat kembali makna kemerdekaan bukan hanya sebagai peristiwa sejarah yang dikenang setiap bulan Agustus, tetapi sebagai semangat untuk terus menghadirkan Gereja yang berjalan bersama masyarakat, menguatkan yang lemah, merawat persaudaraan, serta mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat.

Duduk Bersama, Mendengarkan, dan Berbagi

Bidang Pewartaan

Pertemuan diawali dengan sambutan selamat datang dari Pak Wiwed dan doa pembuka oleh Pak Saryono. Kehangatan semakin terasa ketika tim pewartaan Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) memperkenalkan berbagai karya pelayanan yang telah berjalan.

Dari pelayanan kepada anak-anak, remaja, orang muda, keluarga, hingga lansia, tampak jelas bahwa pewartaan tidak mengenal batas usia. Ada pelayanan PIA, PIR, OMK, kerasulan Kitab Suci, inisiasi, evangelisasi, promosi panggilan, hingga pelayanan bagi lansia melalui senam dan kunjungan ke lingkungan.

Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) juga berbagi pengalaman kolaborasi dengan masyarakat desa/padukuhan melalui kirab budaya dan berbagai kegiatan dalam rangka Merti Dusun. Kolaborasi tersebut mendapat apresiasi karena menjadi contoh nyata bahwa Gereja tidak hidup sendiri, tetapi hadir dan berjalan bersama masyarakat.

Inilah wajah kemerdekaan yang sesungguhnya: ketika kita tidak berjalan sendiri. Ketika keberhasilan bukan hanya tentang apa yang mampu kita lakukan, tetapi tentang siapa yang dapat kita kuatkan melalui apa yang kita lakukan.

Pewartaan yang Menyentuh Semua Generasi

Dalam sesi berbagi karya, masing-masing TimPel menyampaikan pengalaman, rencana, sekaligus tantangan pelayanan.

TimPel Evangelisasi terus mengembangkan kegiatan Ibu Bintang Evangelisasi Keluarga (IBEK), sementara PIUL menghadirkan kepedulian kepada para lansia melalui senam dan kunjungan. TimPel PIOM membagikan pengalaman retreat pemilihan pengurus OMK periode 2026–2030 yang diikuti 17 orang muda. Proses yang semula diwarnai keraguan justru berkembang menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan.

Di sisi lain, PIA terus menghadirkan Sekolah Minggu dengan jumlah peserta yang mencapai 20–50 anak setiap sesi sekaligus membuka rekrutmen pendamping baru. PIR dan PIOM juga terus membangun kebersamaan orang muda melalui pertemuan di lingkungan-lingkungan.

Semua itu menunjukkan bahwa pewartaan bukan sekadar menyampaikan materi iman. Pewartaan adalah menghadirkan ruang agar setiap orang merasa diterima, didengarkan, disapa, dan dikuatkan.

Rembug Bersama untuk Menyatukan Langkah

Salah satu pembahasan penting adalah pengembangan pendampingan iman, khususnya persiapan penerimaan sakramen dan penggunaan silabus pendampingan yang akan menjadi acuan bersama Gereja Maria Marganingsih Kalasan (GMMK) dan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA).

Dalam proses tersebut, muncul kesadaran bahwa pelayanan yang baik membutuhkan kesatuan visi, kesungguhan persiapan, serta kemauan untuk terus belajar. Pendamping tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi perlu mampu mendampingi umat secara utuh, menyeluruh, rutin, dan berkelanjutan.

Bahkan dalam pendampingan anak-anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan perhatian dan pendampingan yang sesuai dengan situasi masing-masing. Semua temuan dan persoalan pun perlu didiskusikan bersama Romo Paroki agar keputusan yang diambil sungguh menjadi keputusan bersama.

Semangat ini sejalan dengan ungkapan Jawa yang menjadi roh pertemuan:

Lungguh bareng – duduk bersama.
Rembug bareng – berdiskusi bersama.
Mutusi bareng – memutuskan bersama.
Lan nandangi bareng – mengerjakan dan menghadapi bersama.

Karena ketika kita duduk bersama, kita belajar mendengarkan. Ketika kita berdiskusi bersama, kita belajar memahami. Ketika kita memutuskan bersama, kita belajar bertanggung jawab. Dan ketika kita mengerjakan bersama, kita belajar bahwa tidak ada pelayanan yang harus dipikul sendirian.

Pewarta Dipanggil untuk Bahagia dan Inspiratif

Pertemuan kemudian diperkaya dengan sesi public speaking bagi para pemandu bersama Mas Dimas dengan tema “Pemandu Bahagia dan Inspiratif.”

Pesannya sangat sederhana namun dalam: dunia sudah lelah, sakit, dan membutuhkan empati serta peneguhan. Karena itu, kedatangan seorang pewarta semestinya menjadi sesuatu yang dinantikan umat.

Pewarta bukan dituntut menjadi manusia yang sempurna atau paling suci. Pewarta dipanggil untuk hadir sebagai fasilitator yang membantu umat berbagi pengalaman, menemukan makna, dan melihat kembali jejak Tuhan dalam kehidupan.

“Kita tidak bisa memberikan yang tidak kita miliki.”

Karena itu, jika pewarta ingin menghadirkan kasih, ia sendiri perlu belajar menghidupi kasih. Jika ingin menghadirkan empati, ia perlu belajar mendengarkan. Jika ingin membawa sukacita, ia perlu menemukan kembali sukacita dalam panggilannya.

Pemandu yang baik bukan hanya berbicara dengan mulut. Ia berbicara dengan mata yang membangun koneksi, wajah yang ramah, suara yang hangat, serta bahasa tubuh yang terbuka. Pewarta yang mampu menggerakkan hati adalah mereka yang tidak sekadar menyampaikan kata-kata, tetapi menghadirkan rasa, pengalaman, dan inspirasi.

pewarta

Persiapan adalah Bentuk Kesungguhan dalam Melayani

Dalam diskusi, Pak Robert mengingatkan bahwa kreativitas dan fleksibilitas seorang pewarta tetap harus berjalan bersama persiapan yang sungguh-sungguh. Bahkan materi yang berat sekalipun harus dapat disampaikan dengan cara yang sederhana, luwes, dan sesuai dengan peserta.

Public speaking tanpa persiapan akan kehilangan daya. Pelayanan tanpa persiapan pun dapat kehilangan arah.

Karena itu, para pendamping diajak untuk terus belajar, membaca, berlatih, dan mempersiapkan diri. Terlebih tantangan pendampingan remaja dan orang muda menuntut kreativitas yang terus diperbarui.

Orang Muda: Bertumbuh dalam Kebersamaan

Semangat kebersamaan juga tampak dalam karya pendampingan PIR dan OMK. Pertemuan orang muda tidak hanya dilakukan di ruang gereja, tetapi juga melalui anjangsana ke lingkungan.

Dengan gaya yang sederhana, menyenangkan, dan happy, para pendamping berusaha membangun suasana yang membuat orang muda merasa nyaman untuk datang, berbagi, dan terlibat. Dari proses tersebut, telah terhimpun sekitar 30–40 orang muda dalam berbagai kegiatan.

Di sinilah pewartaan menemukan wajahnya yang baru: tidak selalu harus formal, tetapi harus bermakna; tidak harus rumit, tetapi harus menyentuh; tidak harus sempurna, tetapi harus sungguh-sungguh.

Merawat Cita-Cita Proklamasi Melalui Pewartaan

Pertemuan Agustus ini akhirnya membawa kita pada sebuah kesadaran penting: kemerdekaan adalah tanggung jawab bersama.

Cita-cita Proklamasi tidak cukup hanya dirayakan melalui upacara, lomba, kirab budaya, atau berbagai perayaan. Cita-cita itu perlu dirawat melalui tindakan nyata: dengan membangun persaudaraan, memperkuat yang lemah, mendampingi anak-anak, berjalan bersama orang muda, menemani keluarga, menghormati lansia, dan hadir di tengah masyarakat.

Pewarta dipanggil untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut.

Merdeka itu saling menguatkan.

Maka mari terus:

Lungguh bareng untuk mendengarkan.
Rembug bareng untuk menemukan jalan.
Mutusi bareng untuk menentukan arah.
Lan nandangi bareng untuk mewujudkan karya nyata.

Sebab Indonesia yang maju tidak dibangun oleh mereka yang berjalan sendirian. Indonesia yang adil lahir dari mereka yang mau berbagi dan peduli. Indonesia yang bermartabat tumbuh dari manusia-manusia yang menghargai sesamanya.

Dan Gereja dipanggil untuk menjadi bagian dari perjuangan itu.

Dari ruang pewartaan, mari kita rawat kemerdekaan.
Dari kebersamaan, mari kita tumbuhkan persaudaraan.
Dari pelayanan, mari kita hadirkan harapan.

Merdeka itu saling menguatkan.
Pewarta bergerak, Gereja bertumbuh, Indonesia semakin bermartabat.

Sutanto Prabowo

Father, Teacher, Blogger, Duta Damai BNPT, Indonesia Local Guide, member Komunitas Blogger Jogja, blog : https://maswo.my.id

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *