
Tiga puluh menit sebelum pukul tujuh malam pada hari Jumat, 17 Oktober 2025 tiba-tiba air hujan turun dari langit. Hal ini membuat siapa pun yang semula berencana melakukan kegiatan di luar akan mengurungkan niat atau jadi enggan meninggalkan rumah. Bagi sebagian besar orang akan memilih membaringkan badan atau menghangatkan badan menikmati minuman panas sambil menikmati gorengan. Namun, tidak demikian dengan umat Lingkungan Gregorius Kaliajir. Delapan belas (18) umat memilih beranjak dari kenyamanan untuk bersekutu bersama umat yang lain di rumah Antonius Triyatno.
Wakil ketua lingkungan, Ignatia Gondowati, mengawali pertemuan beberapa menit setelah pukul tujuh malam. Pertama-tama, mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah yang telah memperkenankan umat limgkungan berkumpul dan berdoa di rumahnya. Kedua, menyampaikan terima kasih dan rasa bangga pada umat lingkungan yang dengan semangat tetap hadir meskipun hujan turun menjelang diadakannya pertemuan. Semoga kesetiaan dan semangat umat yang hadir dalam persekutuan doa Rosario selama bulan Oktober ini menginspirasi dan memotivasi umat lain yang belum bergabung.
Dalam ibadat dan doa Rosario di hari yang ke tujuh belas ini, umat mendaraskan Peristiwa Sedih. Diawali dengan doa pembuka dengan meneliti batin yang dipimpin oleh RB Maryanto, dirangkai dengan berdoa Rosario dipandu oleh Maria Magdalena Supraptiwi. Seperti biasa, kutipan perikop Injil dalam setiap peristiwa dibacakan oleh anak-anak yang selalu antusias membacakannya. Mereka membacakannya secara bergantian. Dalam peristiwa sedih ini umat diajak untuk merenungkan kembali lima peristiwa. Pada peristiwa pertama, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dalam sakratul maut. Sebagai manusia lemah, peristiwa ini mengingatkan kita untuk selalu mengandalkan dan mengadu kepada Tuhan, bukan pada yang lain. Peristiwa kedua, Yesus didera. Kitalah yang telah mendera-Nya dengan dosa-dosa kita. Sering kali kita melakukan kesalahan yang sama tanpa menyadarinya. Peristiwa ini mengingatkan kita setiap kali akan melakukan kesalahan. Peristiwa ketiga Yesus dimahkotai duri. Kita sering dengan sengaja mempermalukan Yesus dan menambah luka-Nya melalui kelalaian dan dosa kita. Peristiwa keempat Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Kalvari. Hal ini juga mengingatkan kita untuk tidak menambah beban-Nya melalui noda dosa yang terus-menerus kita torehkan dalam kehidupan sehari-hari. Peristiwa kelima Yesus wafat di salib. Kebebalan kita dalam hal dosa tetap kita lakukan tanpa penyesalan. Semoga dengan rutin berdoa Rosario bersama kita menyadari, diiringi niat hati untuk sungguh-sungguh menyesali kelemahan diri, agar dapat meneladan Bunda Maria menjadi pribadi yang rendah hati, setia, dan menyimpan semua persoalan dalam hati.
Setelah selesai berdoa Rosario bersama dan mendengar pengumuman lingkungan, umat pun pamit pulang untuk melanjutkan aktivitas masing-masing dalam sukacita.




