0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Mengampuni Membebaskan

Lalu Lalang kendaraan yang melintas di jalan raya Berbah, dari arah puskesmas Berbah menuju Kalasan, pada malam menjelang pukul tujuh tak kunjung menyepi. Deru kendaraan kecil dan besar seperti tak hendak berhenti. Butuh kesabaran dan kejelian penglihatan untuk dapat menyeberang dari arah Kaliajir Lor ke Kaliajir Kidul untuk sampai ke tempat pertemuan rutin pendalaman iman lingkungan yang pada hari Kamis, 2 Juli 2026 dilaksanakan di rumah Fabianus Dimas Ariyanto.

Prodiakon Yohanes Baptista Topo Kusnandar yang bertugas memandu ibadat segera mengawali pertemuan pada pukul tujuh malam dengan membuat tanda kemenangan, setelah Lambertus Tallulembang mengajak umat mengidungkan lagu pembuka. Dua puluh (20) umat memasuki suasana hening dan mulai tampak fokus mengikuti jalannya pertemuan dan menyimak Injil yang dibacakan prodiakon. Inspirasi pendalaman iman bersumber pada Injil Matius 9: 1-8 tentang ‘Mereka memuliakan Allah karena Ia telah memberikan kuasa sedemikian besar kepada manusia.’

Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang Yesus kembali ke kota-Nya dan menyembuhkan seorang  lumpuh yang dibawa oleh teman-temannya. Hal yang menarik adalah perkataan pertama Yesus kepada orang lumpuh itu bukanlah tentang kesembuhan fisik melainkan pengampunan dosa. Tindakan ini menimbulkan protes dari ahli ahli Taurat yang menganggap Yesus menghujat Allah. Yesus yang mengetahui  pikiran mereka bertanya, mengapa mereka berpikir jahat dalam hati mereka. Yesus kemudian  menunjukkan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa dengan menyembuhkan kelumpuhan orang itu. Kesembuhan fisik  menjadi bukti nyata kuasa-Nya untuk mentembuhkan jiwa. Peristiwa itu mengajarkan  kepada kita bahwa  pengampunan dan penyembuhan adalah dua sisi mata uang kasih Allah.

Umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir bertemu untuk mengikuti pendalaman iman agar dapat terus belajar meneladan kasih Yesus dengan menawarkan pengampunan kepada seseorang yang mungkin telah menyakiti kita. Hal ini mungkin sulit, tetapi tindakan mengampuni membebaskan hati kita dari beban kepahitan. Selain itu, kita juga belajar menjadi saluran penyembuhan bagi orang lain melalui tindakan  kasih dan kepedulian, seperti mendengarkan seseorang yang sedang kesulitan dengan memberikan bantuan praktis atau sekadar mengungkapkan kata-kata yang membangun dan menyemangati.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *