Pendalaman iman Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir selalu diadakan secara rutin setiap hari Kamis pukul tujuh malam. Pertemuan rutin ini selalu dirindukan dan dihadiri umat lingkungan, baik anak-anak, omk, keluarga muda, maupun umat atau pasangan yang sudah tidak muda lagi. Kadang dihadiri hampir 30 umat, kadang pula tidak lebih dari 15 umat. Berapa pun yang hadir, pendalaman iman selalu dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Di minggu pertama bulan Agustus,tahun 2026, tepatnya pada Kamis tanggal 6, pendalaman iman dilaksanakan di rumah Yokebeth Siti Sriyanti. Dihadiri oleh lima belas (15) umat yang telah hadir sebelum pukul 7 malam dan sempat berbincang ringan dan riang satu sama lain bersama keluarga tuan rumah. Perbincangan seputar dinamika lingkungan yang memunculkan inspirasi kebersamaan sebagai umat beriman.

Tepat pukul tujuh malam Lambert Tallulembang selaku pemimpin ibadat mengawalinya dengan doa pembuka, setelah dimulai dengan kekidungan yang dipandu oleh Theovilus Suwarto. Inspirasi pendalaman iman diambil dari Injil Matius 17: 1-9. Kekaguman atas keindahan atau kenyamanan sering membuat orang enggan berpaling atau sulit move on. Di Gunung Tabor, Petrus, Yakobus, Yohanes kagum melihat-Nya berubah rupa. Yesus yang selama ini mereka kenal sebagai guru dan teman tiba-tiba wajah-Nya bercahaya, jubah-Nya putih berkilauan, dan bisa berbincang dengan Musa dan Elia. Menyaksikan kemuliaan Yesus secara langsung kian membuat mereka bertiga nggak ingin move on. Mereka ingin berlama lama di atas gunung itu. Namun, Yesus mengajak mereka turun dari gunung. Turun kembali ke kehidupan nyata, ada orang sakit, ada orang berdosa, ada orang miskin , dan ada banyak tantangan. Pengalaman di Gunung Tabor itu kiranya cukup menjadi bekal rohani.

Sebuah pengingat bahwa Yesus memang Putra Allah yang mulia. Di balik kerapuhan dunia ini, ada harapan dan kemuliaan sejati yang menanti. Orang beriman memiliki pengalaman pengalaman rohani yang indah. Semua itu bagus, tetapi ada yang lebih penting. Kita harus turun gunung untuk kembali ke keluarga kita, pekerjaan kita, lingkungan kita, sesama kita, dan masyarakat kita. Semoga pengalaman kita akan kasih dan kemuliaan Tuhan menguatkan kita untuk menghadapi tantangan hidup, untuk tetap beriman di tengah kesulitan, dan untuk terus berbuat baik meskipun tidak selalu mudah.




