Suasana peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 sudah terasa. Percakapan sebelum Ibadat Jumat Pertama dimulai tidak jauh dari topik kerja bakti lingkungan, lomba, persiapan tirakatan, dan pernik- pernik pitulasan lainnya. Ibadat bersamaan dengan pendalaman katakese Kebangsaan Lingkungan St. Yohanes Rasul Purwo Baru diselenggarakan pada Kamis malam tanggal 6 Agustus 2026 di kediaman Yosef Widya Karsana, Perum Purwomartani Baru Blok D No 1 Kalasan. Ibadat diikuti oleh 18 umat.
Sebelum Ibadat dimulai, Prodiakon Diar Puji Oktavian memberikan pengantar singkat tentang Romo Y.B Mangunwijaya atau yang lebih akrab dipanggil Romo Mangun. Perjalanan hidup Romo Mangun mengajarkan kepada kita tentang menjadi Katolik dan tetap menjadi Indonesia. Malam itu, seturut dengan teladan Romo Mangun yang menjadikan iman sebagai pembuka munculnya bibit nilai kebangsaan, Diar mengajak umat berdialog. Umat merefleksi pengalaman masa lalu, menengok kembali nilai yang paling kuat membentuk iman dan rasa kebangsaan, serta menghayati kembali peran umat Katolik sebagai garam dunia di zaman sekarang.

Salah satu umat, Cornelius Wisnuaji atau lebih sering dipanggil Wisnu mengisahkan, “ Kalau berdasar pengalaman saya, yang mengajari iman dan cinta tanah air adalah keluarga. Waktu kecil, setiap tahun menjelang tujuh belasan saya diajak Bapak untuk membuat pagar dan menghias jalan. Bapak mengajari saya memotong bambu, membelah, menghaluskan , dan mengecat merah putih sampai selesai “ . Ayah Wisnu adalah seorang yang aktif melakukan pekerjaan dekorasi, baik mendekorasi gereja, maupun di lingkungan. Kegiatan ini dikerjakan tanpa henti sampai usia 86 tahun. Teladan Bapak inilah yang terekam kuat dan membentuk iman dan rasa kebangsaan Wisnu.
Lain lagi pengalaman dari Theresia Sunarni . Perempuan aktif ini tinggal di RT 01 RW 01 Perum Purwomartani Baru. Dia menceritakan bahwa di lingkungan tersebut, keluarga Katolik mungkin cukup dihitung dengan jari 1 tangan. Namun yang sedikit ini selalu memberi warna dan penggerak kegiatan RT. “ Bahkan lebih luas lagi, di RW 01, sejak dulu saya tinggal di sini, yang menjadi penggagas dan motor kegiatan RW kok ya kebetulan adalah orang orang Katolik !”, kenangnya sambil menyebut beberapa nama tokoh masyarakat RW 01.

“Kalau saya simpel saja, jika ada yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita, mari kita kerjakan”, kata Francisca Antonia menambahkan pengalamannya mengikuti kegiatan di RT. Bahkan statusnya sebagai perempuan tidak menghalangi aktifitas yang biasa dikerjakan kaum laki laki. Menurut para saksi, bersama ibu-ibu yang lain, perempuan ini ikut menghias jalan, memasang umbul-umbul,dan lampu jalan. Harapan kita, anak-anak mampu meneladani kiprah bapak dan ibu untuk terlibat aktif dalam kegiatan di masyarakat.
Bahwa nilai- nilai keluarga dan pengalaman masa kecil yang membentuk rasa kebangsaan ditegaskan kembali oleh Cicilia. Cicilia bercerita bahwa jaman dahulu hanya sedikit keluarga yang memiliki TV. Eyang, ibu, bapak berpesan kalau mau meihat TV ajaklah tetangga supaya bisa bersama-sama menonton . Rumah pasti ramai terutama saat hari Sabtu atau hari libur. Selain itu, lazimnya di desa, jika ada orang yang kesusahan atau sedang repot nduwe gawe , tetangga dan kerabat tidak usah diminta akan dengan senang hati membantu. “Nilai kedekatan atau kebersamaan inilah yang menjadi bibit nilai kebangsaan. Dari hal sederhana bisa menggalang kebersamaan dan rasa cinta kepada lingkungan . Dalam lingkup yang lebih besar bermakna cinta pada Tanah Air”, mbuh Cicilia, mengamini judul besar katakese kebangsaan kali ini yakni “Tanah Air Ada Di Sana, Dimana Ada Cinta dan Kedekatan Hati.”

Ibadat berakhir pukul 20.30 WIB. Pada pertemuan kali ini Ketua Lingkungan, Y. Widya Karsana berkesempatan menyampaikan terima kasih kepada umat dengan diterimanya sertifikat penghargaan atas partisipasi, kesetiaan, dan tanggung jawab Lingkungan dalam penyampaian setoran APBU, Gerdu, serta Donasi Pembangunan secara rutin dan tepat waktu . Lingkungan St.Yohanes Rasul menjadi salah satu dari 13 lingkungan di Paroki Maria Marganingsih Kalasan yang menerima apresiasi tersebut. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang tentunya masih diwarnai obrolan tentang pitulasan yang tidak ada habisnya. Semoga umat tetap bisa hadir dan terlibat sesuai dengan peran dan kapasitasnya menjadi garam untuk membangun kehidupan bersama.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Veronica Nur Hardiyani




