041 St. Bartolomeus Brintikan: Misa Tujuh Hari: Doa dan Pengharapan Bagi Jiwa yang Berpulang

Gereja Katolik mengajarkan bahwa setiap manusia dipanggil menuju keselamatan kekal bersama Allah di Surga. Namun demikian, tidak semua jiwa langsung mencapai kepenuhan kemuliaan tersebut, melainkan terlebih dahulu menjalani proses pemurnian di api penyucian. Dalam iman Katolik, doa-doa umat yang masih berziarah di dunia memiliki makna penting sebagai ungkapan kasih yang membantu mereka yang telah berpulang agar semakin dimurnikan dan layak bersatu dengan Allah.

Marcelinus Yunanto telah berpulang ke rumah Bapa di Surga pada hari Rabu, 15 April 2026 pukul 16.00 WIB. Sejak saat itu, keluarga bersama umat lingkungan menyelenggarakan rangkaian ibadat memule selama tujuh hari berturut-turut di kediaman duka, Dusun Brintikan RT 03, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Ibadat dilaksanakan setiap malam pukul 19.00 WIB sebagai ungkapan doa bersama dan harapan iman akan kehidupan kekal bagi almarhum.

Rangkaian ibadat memule tersebut dipimpin secara bergantian oleh para prodiakon. Pada hari pertama dipimpin oleh Prodiakon FX. Risang Baskara, hari kedua oleh Prodiakon Clara Henny, dan hari ketiga kembali dipimpin oleh Prodiakon FX. Risang Baskara. Selanjutnya, hari keempat dipimpin oleh Prodiakon Yohanes Don Bosco Dirgantoro, hari kelima oleh Prodiakon Yohanes Dwi Basuki Rahmat, dan hari keenam oleh Prodiakon Antonius Hendrik.

Sebagai puncak dari rangkaian doa tersebut, Misa memule tujuh hari dilaksanakan pada hari Senin, 20 April 2026 pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., didampingi dua prodiakon lingkungan yakni FX. Risang Baskara dan Clara Henny. Perayaan Ekaristi ini diikuti sekitar seratus umat, yang terdiri dari umat lingkungan, wilayah, serta keluarga besar. Dalam perayaan tersebut, dilantunkan lagu-lagu liturgi seperti “Tuhan Berikanlah” (Madah Bakti No. 90) sebagai pembuka, “Tuhan Beserta Kita” (Madah Bakti No. 831) saat komuni, serta “Nderek Dewi Maria” sebagai penutup. Liturgi sabda menghadirkan pesan pengharapan melalui bacaan Kitab Ibrani dan mazmur tanggapan yang menegaskan bahwa sabda Tuhan adalah roh dan kehidupan.

Dalam homilinya yang bersumber dari Injil Yohanes 14:1–14, Romo Ngatmo mengajak umat untuk tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan berpegang teguh pada janji Kristus tentang tempat tinggal abadi di rumah Bapa. Ia menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal kehidupan baru dalam damai sejahtera bersama Allah. Sebagai bagian dari rangkaian ibadat, Romo juga memberkati bunga yang akan ditaburkan keluarga di makam almarhum keesokan harinya.

Kehadiran umat dalam setiap malam ibadat mencerminkan kepedulian dan solidaritas yang kuat terhadap keluarga yang berduka. Kebersamaan dalam doa ini menjadi penghiburan tersendiri, sekaligus wujud nyata iman bahwa kasih dan harapan akan kehidupan kekal senantiasa menyertai mereka yang percaya kepada Tuhan.

Catatan : Foto dikirim oleh Bonfilio Febri Priyambodo

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *