041 St. Bartolomeus Brintikan: Sarasehan BKSN I : Pembaruan Relasi Dengan Diri Sendiri

Umat di Lingkungan St. Bartolomeus Brintikan mengadakan sarasehan pertama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Tahun 2025 pada hari Rabu, 3 September 2025 pukul 18.30 WIB di kediaman Victorianus Harjoko di Dusun Brintikan RT.03 Tirtomartani Kalasan Sleman, dengan dipandu oleh Hilarius Yudi Lasyanta dan partisipasi 15 umat.

Lagu pembuka “O Rahmat yang Mengagumkan” dari Puji Syukur No. 600 mengawali kegiatan ini. Dalam pengantar sarasehan, Yudi menyampaikan bahwa Tema Nasional BKSN 2024 adalah “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, Kita belajar dari nubuat nabi Zakharia dan nabi Maleakhi. Penentuan tema ini dipengaruhi oleh bulla Paus Fransiskus berkaitan dengan Tahun Yubileum 2025 yang berjudul Spes non Confundit (Pengharapan tidak Mengecewakan).

Pada sarasehan pertama ini mengambil Subtema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dari Kitab Nabi Zakharia 1:1-6 yang dibacakan oleh Bonfilio Febri. Dalam pendalaman iman Yudi mengajak umat untuk membahas soal-soal yang terdapat dalam buku panduan. Beberapa hal hasil pembahasan antara lain : Firman Tuhan datang kepada nabi Zakharia pada bulan ke 8 tahun ke-2 pemerintahan Raja Darius. Tuhan murka kepada nenek moyang orang Yahudi karena mereka selalu memberontak kepada TUHAN, dengan menyembah berhala, melanggar hukum Nya, mereka tidak mau mendengar suara TUHAN sehingga TUHAN menghukum mereka dengan menyerahkan mereka ke tangan musuh yang menghancurkan dan membuang mereka. Tetapi Allah mengutus para nabi karena Ia mengasihi kita untuk mengingatkan kita supaya menjadi lebih baik. Menurut Yudi, ayat mas pada sarasehan pertama ini adalah “Kembalilah kepadaKu, maka Aku pun akan kembali kepadamu.” (ayat 3).

Dalam suasana penuh kekeluargaan, beberapa umat berkesempatan menyampaikan sharing iman. Yohanes Danang mengungkapkan, apabila kita dengan tulus menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan melepaskan rasa dendam terhadap orang yang pernah menyakiti kita, maka Tuhan sendiri yang akan turun tangan melimpahkan berkat-Nya, sebab rezeki dan jalan hidup kita sudah diatur oleh-Nya. Sementara itu, M.Th. Sri Wahyunani menegaskan bahwa hidup ini ibarat menabur benih: apa yang kita tanam melalui perbuatan kita, itulah yang kelak akan kita tuai. Senada dengan itu, FX. Kristyanto mengajak seluruh umat untuk senantiasa melakukan refleksi diri, memperbaiki kekurangan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, baik dalam kesetiaan beribadah maupun dalam sikap sehari-hari terhadap sesama.

Di penghujung sarasehan, Yudi memberikan pesan sederhana namun mendalam, yakni membiasakan diri untuk selalu berpikiran positif sejak pertama kali kita membuka mata di pagi hari, sebab segala sesuatu bermula dari pikiran yang jernih dan optimis. Ajakan ini menjadi pengingat untuk terus memperbarui relasi dengan diri sendiri. Pertemuan yang penuh makna ini berlangsung kurang lebih satu jam, dan ditutup dengan penuh khidmat melalui lantunan lagu “Yang Berteduh pada Tuhan” dari Puji Syukur No. 654.

Catatan : Foto dikirim oleh Bonfilio Febri Priyambodo

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *