Umat di Lingkungan Benediktus Perum Pertamina kembali berkumpul di rumah keluarga P. Sandy untuk mengikuti pertemuan ketiga Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Pertemuan dilaksanakan pada hari Kamis, 17 September, pukul 19.00 WIB dipimpin oleh petugas dari kelompok dua, yang terdiri dari MM Ariyani Indriastuti, Caecilia Dhini Arti, dan Theodora Ardiani Noor Savitri. Pertemuan diawali dengan lagu pembuka “Kasih Pasti Lemah Lembut”. Tiga belas (13) umat yang hadir dennen semangat menyanyikan lagu tersebut.

Tema BKSN pada pertemuan ketiga ini adalah “Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman yang Saling Menyejahterakan”. Gereja sebagai persekutuan umat beriman tidak pernah lepas dari berbagai macam persoalan, baik eksternal maupun internal. Yesus mengajarkan agar kita menghadapi masalah dengan bijaksana, penuh kasih, dan peduli. Ketika ada saudara yang berbuat salah, kita perlu berusaha membimbing dan menyelamatkannya, bukan menghakimi. Sikap tersebut merupakan wujud kasih dan kepedulian sebagai anggota komunitas Kristiani. Oleh karena itu, tujuan dari pertemuan kali ini mengajak umat merefleksikan bagaimana pengalaman hidup berkomunitas dan menyadarkan pentingnya membangun persaudaraan sejati dalam Kristus dengan saling menegur, mengampuni, dan merangkul satu sama lain seturut ajaran Yesus.

Setelah mendengarkan Injil Matius 18: 15-20, umat diajak untuk merefleksikan bacaan tersebut dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama, bagaimana sikap saya ketika melihat saudara seiman melakukan kesalahan? Novia Christanti mengatakan bahwa “Pada awalnya merasa kaget ketika melihat saudara seiman melakukan kesalahan. Namun alih-alih mencemooh orang yang berbuat salah, saya memilih menegur orang tersebut dengan bahasa kasih dan tidak mempermalukan orang tersebut dengan menegurnya secara empat mata.”
Menjawab pertanyaan kedua, apakah saya berani menegur dengan kasih atau justru membicarakannya kepada orang lain? Elisabet menyampaikan, “Saya memilih yang kedua. Karena kalau melihat ada sesuatu yang salah, saya mau menegur kok takut ya. Nanti dia marah sama saya. Nanti hubungan kami tidak baik lagi. Jadi biasanya saya akan cerita dengan orang lain, kok dia begini ya, padahal kan harusnya begini. Bagaimana ya? Kalau saya ngomong begini salah enggak ya? Nanti biasanya orang yang mendengarkan cerita saya akan memberi masukan seperti ini. Karena biasanya saya itu antara otak dan mulut lebih cepat mulut. Jadi ngomong dulu baru mikir.”

Pertanyaan ketiga, pengalaman apa yang pernah saya alami ketika dirangkul kembali oleh komunitas? dijawab oleh Veronika, “Permasalahannya adalah jarang kelihatan dalam kegiatan lingkungan. Contohnya, suami saya yang jarang kelihatan. Besok kalau ada kegiatan bantu-bantu ya. Saya tanya lagi, kalau saya ngomong begini, apa sih yang bapak rasakan? Ya biasa saja. Itu menurut pribadi beliau. Kalau saya jadi beliau pasti – pertama rasa malu itu pasti ada, kalau melakukan kesalahan. Yang kedua, saya merasa, oh saya diperhatikan. Berarti saya diterima. Yang ketiga saya dikuatkan karena memiliki persekutuan, atau komunitas kecil. Yang keempat, dikuatkan. Berarti kehadiran saya juga diharapkan.”
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan, umat diajak bermain games untuk mendalami pesan dari tema. Masing-masing umat diminta membawa sebuah barang dari rumah, yang tidak terlalu mahal dan sudah ada di rumah (tidak perlu membeli). Pemandu dari kelompok dua mengajak umat mengestafetkan barang yang sudah dibawa sambil mendengarkan lagu “Kasih Yesus Oh Indah”. Pada saat lagu berhenti, barang yang terakhir dipegang oleh umat akan menjadi milik umat tersebut. Umat gembira mengikuti permainan tersebut.
Permainan “Berbagi Berkat” pada malam hari ini ternyata sangat erat kaitannya dengan tema BKSN pertemuan ketiga. Melalui tema hari ini, kita diingatkan kembali untuk selalu peduli kepada sesama umat manusia dengan berani menegur dan mengingatkan sesama kita yang melakukan kesalahan. Selain mengingatkan sesama kita yang melakukan kesalahan, kita juga diajak untuk dapat mengampuni, karena kita juga diampuni oleh Tuhan, apapun kesalahan kita. Kita lebih dulu diampuni oleh Tuhan, mengapa kita tidak bisa mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita?
Kegiatan dilanjutkan dengan doa permohonan (doa umat), Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, dan Mohon pertolongan Bunda Maria bagi pembangunan gereja dan kawasan terpadu Kalasan. Pertemuan malam ini ditutup dengan doa penutup dan lagu penutup “Bahasa Cinta”.
Pertemuan ketiga BKSN membantu umat memahami makna persaudaraan dalam iman berdasarkan Injil Matius 18:15-20. Umat diajak untuk membangun relasi yang baik dengan sesama melalui sikap saling menegur dengan kasih, mengampuni, dan merangkul saudara yang melakukan kesalahan. Permainan “Berbagi Berkat” turut memperkuat pesan tersebut dengan mengajak umat menyadari bahwa berkat yang diterima juga perlu dibagikan kepada sesama. Melalui pertemuan ini, umat diharapkan mampu mewujudkan persaudaraan sejati dalam kehidupan komunitas dengan sikap peduli, saling mendukung, dan mengutamakan kebaikan bersama.
Catatan: Tulisan dan foto dikirim oleh Chatarina Novia C.




