406 St. Yohanes Rasul Purwo Baru: Pertemuan BKSN Ke-3 : Damai dan Sejahtera dengan Saling Peduli dan Berbagi

Pada Kamis malam tanggal 17 September 2026, sejumlah 20  umat lingkungan St. Yohanes Rasul kembali berkumpul untuk melanjutkan pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional  Minggu Ke-3. Sarasehan dilaksanakan di rumah keluarga Y. Bambang Suryanto di Perum Purwomartani Baru Jl. Sadewa Nomor 6. Tema BKSN minggu ini adalah Pengajaran Yesus Tentang Persaudaraan dalam Iman yang Saling Mensejahterakan.

Di awal pertemuan, pemimpin ibadat Ignatia Mardyantiwi mengingatkan kembali para hadirin tentang kisah hidup Santo Matius, yang tulisannya menjadi bahan renungan BKSN bulan September ini. Matius yang hidup di abad ke-1 ini, awalnya adalah seorang pemungut cukai, perwakilan dari “orang berdosa di zaman itu” yang tergerak mengikuti panggilan Tuhan Yesus, menjadi pewarta Sabda, membawa damai sejahtera bagi manusia.

Tidak ada manusia yang sempurna, namun dalam hidup persaudaraan beriman, untuk mewujudkan damai dan sejahtera, Yesus mengajarkan umat-Nya untuk hidup saling menguatkan melalui saling menegur , mengampuni, dan saling merangkul satu sama lain. Umat yang hadir dalam sarasehan diajak  saling berbagi pengalaman masing masing.

Louis Roni yang sehari harinya berprofesi sebagai seorang guru bercerita.  Pada saat seorang siswa atau bahkan guru melakukan suatu hal yang kurang layak atau pantas maka Roni akan berusaha melakukan pendekatan secara pribadi, mencari ruang yang tenang untuk berdiskusi. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa atau guru yang bermasalah menjadi terbuka dan bersama sama memperoleh solusi. 

Menurut pengalaman Widya , untuk menegur seseorang kadang kadang kita membutuhkan orang lain sebagai jembatan untuk menyampaikan maksud baik kita. “Kita bisa minta tolong orang yang dekat atau sahabat dari orang yang perlu kita tegur. Orang terdekat  biasanya lebih memahami bagaimana karakter orang tersebut, sehingga bisa melakukan pendekatan dengan lebih pas.” Hal ini senada yang disampaikan Bernadeta Laksmi bahwa belum tentu kalau kita menasehati seseorang akan ditanggapi dengan baik. Sebaiknya kita mencari sosok lain yang lebih didengar, bisa orang yang lebih  dituakan atau atasan.

Diar Puji Oktavian juga mengisahkan pengamatannya pada seorang Romo yang hendak menegur salah satu umat. Karena masalah yang terjadi pada umat tersebut kemungkinan besar juga dialami umat lain, maka Romo menyampaikan tegurannya secara umum di forum, tanpa menyebut nama atau menunjuk  orang orang tertentu.

“Kadang muncul  keraguan  pada saat mau menegur teman atau saudara kita. Kita kuatir jatuh dalam suatu  ‘kesombongan rohani’. Dianggap merasa lebih baik atau sok suci dibanding yang lain”. ujar Caecilia Wahyu membagikan  pengalamannya.  Cornelius Wisnu Aji pun menimpali,” Benar, syarat pertama pada saat kita akan menegur adalah sikap kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, kita dapat merangkul saudara saudara kita, saling mengampuni, membagikan kebaikan,dan membawai damai “.

Sebelum kegiatan ditutup, sesuai buku panduan, dilakukan permainan kecil. Sambil menyanyikan lagu bahagia, umat yang hadir saling berbagi bingkisan sederhana sebagai wujud kecil dari sikap peduli. Dimulai dari berbagi hal kecil dan sederhana, diharapkan persaudaraan iman semakin tumbuh dan saling mensejahterakan. 

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Veronica Nur Hardiyani

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *