Pada hari Kamis tanggal 3 September tahun 2026, bertempat di kediaman keluarga Poltak Manalu di Perum Purwomartani Baru Blok A Nomor 20, umat Lingkungan Yohanes Rasul kembali berkumpul untuk beribadat bersama. Kegiatan lingkungan ini dihadiri oleh 17 umat.
Ibadat Jumat Pertama malam itu terasa lebih istimewa. Bukan hanya karena bersamaan dengan sarasehan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Tahun 2026, namun lebih karena topik yang diangkat adalah “Pengajaran Yesus Tentang Hidup Yang Bahagia.” Lagu pembuka yang berjudul “Aku Bahagia” berhasil menyemarakkan suasana dan membawa umat yang hadir lebih masuk ke materi renungan BKSN.
Berikut penggalan lagu “Aku Bahagia” sesuai Buku Renungan BKSN 2026 :
Aku bahagia, bahagia
Bahagia,bahagia
Aku bahagia, bahagia
Kar’na Tuhan Yesus angkat bebanku

Dalam renungannya, pemimpin ibadat, Prodiakon Caecilia Wahyu Estining Rahayu mengajak umat memaknai kembali sabda- sabda bahagia yang disampaikan Tuhan Yesus di atas bukit. Umat diajak merefleksikan berbagai pengalaman yang menghadirkan kebahagiaan maupun kesedihan dalam kehidupan sehari-hari.Umat juga diminta untuk menyampaikan bagian mana yang paling menyentuh atau paling sulit dilakukan dari ajaran bahagia. Berbagai sudut pandang dan pengalaman iman yang berbeda mewarnai sharing malam itu.
Menurut Yosef Widya Karsana ,”Hal tersulit untuk dilakukan adalah menjadi berani dianiaya karena kebenaran. Berani untuk menghadapi masalah karena membela kebenaran merupakan ujian menjadi murid Kristus.. Seperti yang dialami oleh para rasul dahulu”. Demikian disampaikan Yosef sembari menambahkan beberapa kejadian kurang menyenangkan yang menimpa umat Kristiani belakangan ini.
Berbeda dengan Cornelius Wisnu, menurutnya yang tersulit adalah menjadi seorang pembawa damai. Berdasarkan pengalaman, sungguh tidak mudah membawa damai di hati. Pada saat muncul satu saja perbedaan atau kesenjangan dari yang diharapkan, kita cenderung untuk menghakimi orang lain, marah, dan bersikap tidak adil. Maka upaya untuk menampilkan wajah Yesus , Sang Pembawa Damai Sejati, sungguhlah sulit. Sesungguhnya, melalui Sabda-Sabda Bahagia, Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyikapi setiap keadaan dan persoalan hidup bukan semata-mata berdasarkan cara pandang manusia, melainkan dengan kacamata iman dan tuntunan Roh Kudus.
“Banyak hal kecil bisa menumbuhkan perasaan bahagia . Kebiasaan sederhana seperti doa dan makan bersama dalam keluarga, berkegiatan bersama di lingkungan maupun masyarakat merupakan saat saat yang membahagiakan.”, kata Dyah Murty membagikan pengalamannya.
” Bisa menghadiri Ekaristi bersama keluarga juga membahagiakan. Latihan koor bersama juga membuat bahagia, apalagi kalau yang datang latihan banyak, akan lebih bahagia lagi.” , kata Valentina yang merupakan koordinator paduan suara Lingkungan Yohanes Rasul menimpali, dan langsung disambut dengan tawa umat yang hadir.

Menjadi miskin di hadapan Allah menjadi awal sukacita murid-murid Kristus. Dengan mampu merasakan miskin, tidak memiliki apapun, tidak berdaya tanpa kehadiran Allah, selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi sulit, menyerahkan segalanya pada Tuhan , dan mengimani bahwa Yesus lah yang mampu mengangkat beban hidup kita, maka umat Kristiani boleh merasakan kebahagiaan sejati.
Ibadat diakhiri pukul 20.15 WIB. Sebelum pulang, umat yang hadir dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang sudah disiapkan. Sayup-sayup masih terdengar beberapa umat mendendangkan lagu “Aku bahagia, bahagia, kar’na Tuhan Yesus angkat bebanku…”
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Veronica Nur Hardiyani




