Menemukan Jejak Kristus: SKS I Angkatan III Paroki Maria Marganingsih Kalasan Ditutup dengan Rekoleksi

sekolah kitab suci bersama Romo Dadang

“Imitatio Christi” — mengikuti Dia. Kalimat sederhana namun mendalam inilah yang menjadi benang merah rekoleksi penutupan Sekolah Kitab Suci (SKS) Angkatan III Paroki Maria Marganingsih Kalasan, Minggu, 23 Agustus 2026.

Perjalanan SKS Angkatan III dimulai pada 21 Mei 2026 dan berlangsung dalam 16 kali pertemuan, setiap Selasa pukul 18.00–21.00 di ruang pertemuan Gereja Maria Marganingsih Kalasan. Dari 29 peserta pada awal perjalanan, sebanyak 26 peserta berhasil bertahan hingga akhir dan mengikuti seluruh rangkaian penutupan. Selama berbulan-bulan, para peserta tidak hanya diajak mengenal Kitab Suci, tetapi juga belajar menemukan bagaimana Sabda Tuhan dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

SKS di paroki kalasan

Perjalanan itu kemudian mencapai puncaknya dalam rekoleksi penutupan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam di Laboratorium Alam SMA Kolese de Britto, Sleman, Yogyakarta. Rekoleksi dipandu oleh Romo Andreas Setiawan, SJ, dengan tema Imitatio Christi — mengikuti Dia.

SKS 2026 paroki kalasan

Dari Titik Berangkat untuk Mengikuti Dia

Dalam rekoleksi, Romo Andreas mengajak peserta terlebih dahulu menyadari “titik berangkat” masing-masing. Setiap orang memiliki pengalaman, latar belakang, pergulatan, harapan, serta cara pandang yang berbeda dalam menjalani kehidupan iman.

Peserta kemudian diajak membuka diri dan berinteraksi dengan peserta lainnya. Melalui sebuah dinamika, mereka menemukan bahwa setiap pribadi tidak selalu memiliki “irisan” yang sama dengan orang lain. Karena itu, dibutuhkan jembatan agar dapat saling terhubung.

sekolah kitab suci paroki kalasan

Jembatan tersebut bukan sekadar sarana untuk membangun relasi antarmanusia, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana seseorang dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri. Setiap perubahan dalam menggambarkan diri dan relasi dengan orang lain perlu disadari dan diberi alasan. Dari sana, peserta belajar bahwa mengikuti Kristus tidak dapat berhenti pada pengalaman iman pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam relasi dengan sesama dan lingkungan.

Dinamika kemudian diperluas pada lingkungan sekitar hingga lingkungan global. Peserta diajak melihat berbagai pengaruh kehidupan sehari-hari—termasuk iman kepada Tuhan—dalam membangun relasi, bekerja bersama, dan mencapai tujuan bersama: mengikuti Dia.

Menariknya, meskipun seseorang berjumpa dengan lingkungan yang semakin luas, jejak titik berangkatnya tetap dapat dilacak. Artinya, mengikuti Kristus bukan berarti kehilangan identitas diri, melainkan membawa diri yang otentik untuk terus bertumbuh dalam relasi dengan sesama, alam, masyarakat, dan dunia.

“Kalau Masih Bingung, Bagus!”

Setelah mengikuti seluruh proses, peserta kemudian mendapatkan peneguhan dari Romo Paroki Maria Marganingsih Kalasan, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Romo Dadang justru memberikan sebuah peneguhan yang tidak biasa. Jika setelah mengikuti SKS selama berbulan-bulan masih ada peserta yang merasa belum sepenuhnya mengerti atau bahkan masih bingung, menurutnya hal itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.

“Kalau sekarang masih tetap bingung, bagus. Rasa penasaran dan keingintahuan itu harus dipertahankan, agar selalu merasa haus untuk mengenal Dia lebih dekat lagi.”

sekolah kitab suci bersama Romo Dadang

Peneguhan tersebut menjadi pengingat bahwa belajar Kitab Suci bukanlah perjalanan yang selesai hanya karena sebuah program telah berakhir. Justru, semakin seseorang mengenal Sabda Tuhan, semakin terbuka pula ruang untuk bertanya, berefleksi, dan mencari kehendak-Nya.

Dengan demikian, penutupan SKS bukanlah garis akhir. Ia menjadi titik berangkat baru untuk terus membaca, merenungkan, menghidupi, dan mewartakan Sabda Allah dalam kehidupan.

Dari 29, Bertumbuh Menjadi 26 Peziarah Sabda

Setelah menempuh 16 kali pertemuan, perjalanan SKS Angkatan III resmi ditutup. Dari 29 peserta yang memulai perjalanan, 26 peserta sampai pada tahap akhir dan menerima sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan rangkaian pembelajaran SKS.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kisah tentang kesetiaan meluangkan waktu setiap Selasa malam, berdinamika bersama, belajar memahami Kitab Suci, serta berproses dalam komunitas.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa mencintai Kitab Suci membutuhkan ketekunan. Ada waktu, tenaga, kesibukan, dan berbagai tantangan yang harus dilewati. Namun, semuanya menjadi bagian dari perjalanan untuk semakin mengenal Kristus.

Ditutup dengan Ekaristi, Dibuka untuk Perjalanan Berikutnya

Rangkaian rekoleksi kemudian ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang menjadi puncak sekaligus ungkapan syukur atas seluruh perjalanan SKS Angkatan III.

Namun, sebagaimana ditegaskan dalam rekoleksi, berakhirnya SKS bukan berarti berakhirnya proses belajar. Sabda Tuhan selalu mengundang umat untuk melangkah lebih jauh.

Sebagai tindak lanjut, Tim Pelayanan Kitab Suci Paroki Maria Marganingsih Kalasan telah mempersiapkan SKS Lanjutan dengan pendalaman Injil Matius, yang direncanakan berlangsung pada awal November hingga pertengahan Desember 2026, dengan narasumber Romo Bobby Steven Octavianus Timmerman, MSF.

Dari Kalasan, perjalanan para pecinta Kitab Suci pun terus berlanjut. Sebab mengikuti Kristus bukanlah tentang seberapa cepat seseorang sampai pada jawaban, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan, terus mencari, terus bertanya, dan terus membuka hati.

“Imitatio Christi” — mengikuti Dia.
Bukan hanya dengan mengenal Sabda-Nya, tetapi dengan menjadikan Sabda itu hidup dalam diri, dalam relasi dengan sesama, dan dalam setiap langkah kehidupan.

**Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu.

Sutanto Prabowo

Father, Teacher, Blogger, Duta Damai BNPT, Indonesia Local Guide, member Komunitas Blogger Jogja, blog : https://maswo.my.id

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *