Peringatan ibadat tujuh hari berpulangnya Franciscus Xaverius Wisnu Wardhana dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Mei 2026 pukul 19.00 WIB dalam suasana doa yang khidmat dan penuh pengharapan. Angka tujuh dalam tradisi iman memiliki makna yang mendalam. Dalam pemahaman lokal, kata “pitu” dimaknai sebagai “pitulungan” atau pertolongan. Sementara dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja, angka tujuh melambangkan kesempurnaan dan kemurnian, seperti dalam kisah penciptaan di mana Allah menciptakan dunia dalam tujuh hari, ada juga masa percobaan dan persiapan selama tujuh hari Nabi Nuh menunggu air bah surut. Dengan demikian, peringatan tujuh hari ini dipandang sebagai momen penting untuk mendoakan jiwa yang telah berpulang. Melalui doa-doa yang dipanjatkan, umat memohon belas kasih Allah agar almarhum beroleh pengampunan, damai kekal, dan diterima dalam kemuliaan-Nya.

Lima puluh dua umat mengikuti ibadat pada malam tersebut, berasal dari lingkungan St. Maria Sidokerto, lingkungan St. Elisabeth, dan rekan serta keluarga. Prodiakon Agus Harianto sebagai pemimpin ibadat mengajak kita untuk memikirkan bacaan pertama yang diambil dari Kisah Para Rasul 13:26-33. Renungan yang diambil dari bacaan tersebut yaitu menitikberatkan kepada titik kebangkitan Tuhan Yesus. yang merupakan ratapan kabar menjadi favorit. Lalu Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, sehingga kita tetap hidup karena kita dibangkitkan setelah tiga hari. Memperingati tujuh hari meninggalnya FX. Wisnu merupakan pengharapan karena Allah mampu memberi kehidupan bagai mereka yang telah berpulang. Dalam bacaan Injil yang diambil dari Yohanes 14:7-14 mengingatkan kita pada janji Yesus yang sudah menyiapkan tempat untuk kita semua disana. Selain itu, Yesus juga menegaskan bahwa setiap permohonan yang dipanjatkan dalam nama-Nya akan didengar dan dikabulkan sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini menjadi sumber penghiburan dan kekuatan iman, karena kita percaya bahwa kasih Tuhan senantiasa menyertai dan menjawab setiap doa umat-Nya.

Pada akhir ibadat, rangkaian doa ditutup dengan doa Rosario yang dipersembahkan secara khusus bagi keselamatan jiwa almarhum FX. Wisnu Wardhana serta arwah semua umat beriman yang telah berpulang. Doa ini juga dipanjatkan sebagai ungkapan penghiburan bagi keluarga, khususnya keluarga Ibu Monica, yang tengah berduka. Melalui doa Rosario, umat yang hadir diajak untuk semakin meneguhkan iman, menyerahkan segala harapan kepada Tuhan, serta menemukan kekuatan dalam kasih-Nya. Kebersamaan dalam doa ini menjadi tanda bahwa Gereja senantiasa hadir mendampingi umat dalam suka maupun duka. Selain itu, Rosario menjadi pengingat bagi setiap umat untuk selalu berjaga-jaga, hidup dalam kasih, dan setia kepada Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, iman yang dihidupi tidak hanya menjadi penghiburan, tetapi juga tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Margaretha Daniar Rizki Pratiwi




