
Gregorius Agung adalah Paus pertama yang secara resmi mengumumkan dirinya sebagai Kepala Gereja Katolik sedunia. Ia memimpin Gereja selama 14 tahun dan dikenal sebagai paus yang masyhur, negarawan, dan administrator ulung pada awal abad pertengahan serta Bapa Gereja Latin yang terakhir, serta dikenal sebagai Pujangga Gereja Latin karena tulisan-tulisannya yang berbobot. Tanggal 3 September adalah hari peringatan Santo Gregorius Agung, pelindung Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir.

Bertepatan dengan hari raya peringatan Santo Gregorius Agung, umat merayakannya dengan Misa Lingkungan dan Pesta Nama LGAK. Tepatnya pada hari Rabu Pon, 3 September 2025 pada pukul 19.00 WIB di rumah keluarga Anastasius Senen Sarirejo. Sejak pagi pukul 09.00 WIB ibu-ibu telah memenuhi dapur untuk mempersiapkan menu untuk menjamu umat dan tamu yang hadir dalam pesta nama lingkungan. Semua bahan yang diperlukan pun telah siap untuk dieksekusi. Sambil berwawan hati, diselingi canda ceria, ibu-ibu yang hadir sibuk menyiangi sayuran dan mengupas bumbu. Segala sesuatunya pun selesai dan siap tepat pada waktunya.

Tujuh puluh (70) umat, termasuk tamu undangan dari lingkungan di Wilayah FX, hadir dan bersekutu dalam perayaan ini. Misa dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Dalam homilinya Romo Dadang menegaskan bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua orang, baik umat Katolik maupun umat lain. Tuhan Yesus bukan hanya milik umat Katolik, tetapi juga milik semua ciptaan-Nya yang mau diselamatkan. Maka, kita sebagai umat Katolik juga harus membawa terang dan mendoakan jiwa semua orang, termasuk jiwa-jiwa manusia yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita, agar memperoleh pengampunan dan diselamatkan sehingga boleh memandang wajah kerahiman-Nya.

Setelah berkat dan lagu penutup, umat bersama Romo Dadang segera memosisikan diri di depan altar untuk berfoto bersama. Momen yang selalu ditunggu umat untuk update status atau sekadar untuk dokumentasi pribadi. Umat bebas bergaya dalam suasana bahagia bersama Romo Dadang sang gembala yang berkenan lebur bersama ‘domba-dombanya’.



