Perayaan Vigili Paskah – Kebangkitan Kristus Mengubah Kegelapan Menjadi Terang

KOMSOS-GMMK. Sebanyak 1.871 umat Paroki Maria Marganingsih Kalasan menghadiri perayaan ekaristi vigili Paskah 4 April 2026 pukul 17.00 di gereja Maria Marganingsih Kalasan. Membludaknya umat yang hadir membuat panitia Paskah sibuk mengatur tempat duduk umat agar semua umat bisa duduk dan beribadat dengan nyaman, termasuk di sudut-sudut area basement di calon gereja baru Kalasan.

Perayaan Ekaristi Vigili Paskah dipimpin oleh Romo Simon Cipto Suwarno, S.J. Setelah semua lampu gereja dimatikan, perayaan ekaristi dimulai dengan penyalaan lilin paskah di selasar bagian depan. Dengan penuh khidmat, prosesi perayaan lilin Paskah dilaksanakan dalam suasana penuh makna. Umat pun dengan khusuk mengikuti rangkaian perayaan vigili Paskah di tengah-tengah cuaca yang terbilang panas.

Penyalaan lilin Paskah dalam perayaan Misa Vigili Paskah sejatinya menjadi tanda awal kemenangan terang atas kegelapan. Dalam suasana hening dan gelap, api baru diberkati, lalu dinyalakan pada lilin Paskah sebagai simbol Kristus yang bangkit, Sang Terang dunia.

Cahaya dari lilin ini kemudian oleh putra altar dibagikan kepada umat. Terang lilin  ini menggambarkan bahwa terang Kristus hidup dan menyebar di tengah umat-Nya. Dari kegelapan menuju terang ini, umat diajak memperbarui iman dan harapan, bahwa kebangkitan Kristus membawa kehidupan baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam homilinya, Romo Cipto mengungkapkan bahwa tidak semua kematian menakutkan. Ada kematian yang membahagiakan dan melegakan. Ada seorang ibu yang menghembuskan napas terakhir tanpa rasa takut. Ia pergi sambil menghibur putera-putrinya yang menemani-Nya.

Bahkan hari berikutnya, saat upacara penutupan peti, mereka yang melihat wajah dan menyentuh tubuhnya terheran-heran. Tubuhnya tidak dingin tapi hangat. Wajahnya tidak menakutkan. Ia seperti tersenyum kepada semua pelayat yang mengelilinginya. Kematian seperti itu membahagiakan, membuat hati menjadi tenang dan sukacita tidak harus selalu dengan tertawa. Yang menakutkan itu sebenarnya bukan peristiwa kematian, melainkan kesepian. Ketika kematian dikelilingi oleh cinta dan kehangatan yang terus mengalir, maka kebahagiaan sungguh tidak terkatakan. Kita bisa belajar dari seseorang yang rela memeluk salib dalam hidupnya dan pelajaran itu sangat mengharukan.

Upacara malam paskah dimulai dengan suasana redub bahkan gelap dan kemudian dilanjutkan dengan upacara cahaya. Ini semua untuk menjelaskan bahwa hidup kita di tengah keluarga, masyarakat dan komunitas sering kali mengalami kegelapan. Tetapi karena kebangkitan Kristus, semua kegelapan bisa berubah menjadi terang.

Memang benar bahwa sengsara dan penderitaan tidak pernah hilang dari kehidupan kita. Sekarang pertanyaannya, bagaimana umat Kristiani harus mengadapi dan menerima kesengsaraan dan penderitaan salib?

Kalau kita tidak tahu artinya salib, pasti kita susah dan putus asa. Karena pada umumnya, orang beranggapan bahwa salib itu tidak ada gunanya. Dan sebisa mungkin salib itu harus dihindari, dijauhkan dan disingkirkan. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa sengsara dan salib itu tidak mematikan. Tetapi justru membawa kememengan bila salib itu diterima dengan ikhlas sebagai tanda kesetiaan kepada Bapa Allah di surga.

Dikisahkan dalam injil bahwa pada awalnya para murid Yesus tidak pernah tahu bahwa Yesus bisa bangkit dari kematian. Maka bagi para murid, peristiwa kebangkitan Yesus itu sungguh mencengangkan. Orang yang takut menderita dan takut mati biasanya malah tidak bahagia hidupnya. Dan orang yang tidak takut mati, juga tidak mati-mati. Sengsara dan derita yang kita alami sekarang di keluarga, di masyarakat, di dalam komunitas bisa membuat kita putus asa atau sebaliknya.

Dulu tidak mudah, memberitakan kebangkitan Kristus. Sepanjang sejarah, juga tidak mudah. Orang yang mau meyakinkan orang lain tentang kebangkitan Kristus malah kadangkala beresiko pada kemartiran.

Sengsara dan derita yang kita alami membuat kita putus asa atau sebaliknya. Tetapi sebaliknya, kalau kita percaya kepada misteri salib dan kebangkitan, cobaan dan derita itu malah bisa membahagiakan. Tergantung pada sikap kita; mau menerima salib atau menolaknya.

Romo Cipto menutup homili dalam vigili Paskah dengan ungkapan dalam bahasa Jawa.

Wungu Dalem Gusti kuwi lagi dadi cetho yen poro penderek Dalem ugo mbanjur gumregah. Wani urip anyar manut piwulang Dalem Gusti. Gumregahe umat lan gumregahe pasamuan suci ning masyarakat kuwi dadi tondo Paskah.

Selamat Paskah!

Berikut dokumentasi lengkap:
Dokumentasi Vigili Paskah Pukul 17:00 WIB
Dokumentasi Vigili Paskah Pukul 20:30 WIB

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *