0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Sarasehan BKSN 3 dan 4 – Apa yang harus dilakukan untuk Memperbarui Relasi dengan Keluarga dan Allah?

Fenomena perceraian makin marak dewasa ini. Menurut data BPS tahun 2024, tercatat hampir 400.000 kasus. Termasuk pernikahan Katolik di dalamnya. Faktor utama yang menonjol dan sering kali menjadi alasan adalah perselisihan, tidak memahami pasangan, dan faktor ekonomi. Di samping meningkatnya perceraian, saat ini banyak orang juga mengalami krisis iman sehingga relasinya dengan Allah terasa makin jauh. Kedua hal ini menjadi perhatian utama bagi Gereja Katolik dengan melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan menjadikannya sebagai bahan sarasehan dalam BKSN. Hari Kamis malam tanggal 25 September 2025 pukul 19.00 WIB dua puluh enam (26) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir mengadakan pertemuan atau Sarasehan BKSN yang ke-3 dengan tema memperbarui relasi dengan keluarga dan Sarasehan ke-4 dengan tema memperbarui relasi dengan Allah. Sarasehan kali ini dilaksanakan di rumah keluarga Athanasius Senen Sarirejo.

Dalam pertemuan kali ini umat LGAK diajak untuk merenungkan Kitab Maleakhi. Nabi Maleakhi harus berhadapan dengan umat yang tidak peduli lagi dengan iman mereka. Tindakan mereka terungkap dalam tindakan banyak suami Yahudi yang menceraikan istri mereka. Dalam perkawinan Allah mempersatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam ikatan kasih. Mereka mengabaikan kebenaran ini, dan melihat banyak istri diceraikan suami kalua sudah tidak senang lagi atau karena ada perempuan lain yang dianggapnya dapat membuatnya senang. Nabi Maleakhi mengingatkan mereka bahwa Allah menghendaki pembaruan relasi dengan keluarga, Ia menghendaki kesetiaan (Mal. 2: 10-16). Nabi Maleakhi menunjukkan bahwa ketidaksetiaan kepada istri merupakan salah satu wujud ketidaksetiaan kepada Allah. Sementara berkaitan dengan pembaruan relasi dengan Allah, nabi Maleakhi harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang Israel yang merasa tidak ada gunanya lagi untuk hidup kudus dan benar.

Lambert Tallulembang selaku pemimpin sarasehan ketiga ini mengatakan, “Menghadapi fenomena perceraian yang makin marak, apa yang dapat kita upayakan untuk menjaga kesetiaan dalam perkawinan?” Menanggapi pertanyaan ini, Yokebeth Siti Sriyanti mengatakan bahwa “Saya lebih memilih untuk mengalah dan ngemong agar tidak menimbulkan perselisihan lebih lanjut dengan suami.” Sementara itu, Robertus Bambang Yuswantoro lebih cenderung mengikuti keinginan istri. Lain lagi dengan pasangan Irene Arum AS – RB Maryanto, “Jika saya marah dengan suami, lebih baik saya menghindarinya supaya kemarahan dan kekecewaan di hati tidak makin menjadi.” Hal ini senada dengan yang dilakukan Lambert bila menjumpai istri marah-marah dan ngomel-ngomel. Pada prinsipnya semua memiliki kesepakatan tidak tertulis bahwa akan melakukan berbagai cara untuk tetap setia pada pasangan, pernikahan sekali seumur hidup. Sesi sharing dilanjutkan untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang kita lakukan untuk menjaga relasi dengan Allah?” Fransisca Romana Pujiyati berpendapat bahwa, “Agar relasi kita dengan Allah terjaga, kita harus mengikuti Sabda-Nya sebagaimana terulis dalam Kitab Suci dan melaksanakan perintah-Nya serta rajin berdoa.”

Dua tema sarasehan dibahas dalam satu pertemuan pun berakhir dan umat LGAK pun makin menyadari bahwa Allah mengehendaki agar sebagai umat-Nya kita hidup benar di dalam keluarga dengan berlaku setia kepada keluarganya. Umat LGAK berkomitmen untuk menjaga pernikahannya dan akan tetap setia kepada Allah yang selalu baik kepada umat-Nya. Rangkaian sarasehan ditutup dengan doa umat serta doa penutup pada pukul 20.30 WIB. Umat tidak langsung pulang tetapi masih lanjut berbincang dan pengumuman berkaitan dengan agenda lingkungan yang akan dilaksanakan, yaitu tentang bulan Rosario, doa memule, dan pertemuan OMK di paroki.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *