Ekaristi: puncak belas Kasih Allah bagi yang lemah dan tersingkir. Hal ini merupakan tema sarasehan BKL yang ke-24. Medan perutusan itu luas, meliputi keluarga, lingkungan kerja, Masyarakat, bahkan situasi dan kondisi yang tidak nyaman serta penuh tantangan. Perutusan juga menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman menuju ke tempat yang mungkin penuh risiko. Namun, justru di sanalah Tuhan bekerja.

Umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir mendalami tema ini pada sarasehan BKL di hari yang ke-24. Sarasehan dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Mei 2026 pukul tujuh malam di rumah Ignatius Ardi Laksana dan dihadiri 17 umat. Sarasehan dipandu oleh Yohanes Baptista Topo Kusnandar, lagu pembuka dan penutup oleh Theovilus Suwarto. Setelah teks panduan BKL hari ke-24 dibacakan, prodiakon memberi penekanan pada pentingnya Ekaristi bagi kita umat Katolik. Hidup kita terasa kering dan ada yang kurang manakala kita tidak mengikuti Ekaristi pada hari Minggu. Rangkaian sarasehan dilanjutkan dengan doa Litani Bunda Maria yang dipandu oleh Maria Magdalena Supraptiwi. Sarasehan dan doa litani disatukan dengan doa Bapa Kami.

Seusai doa penutup, umat pun pamit pulang. Masing-masing membawa harapan bahwa esok hari akan bertemu kembali pada sarasehan selanjutnya. Niat dan semangat yang terus dibangun untuk terus bersekutu di dalam doa.





