Angin malam bertiup sepoi-poi, diiringi gemerisik daun yang saling beradu di antara ranting-ranting pohon yang tumbuh di sepanjang jalanan kampung Kaliajir, menambah dinginnya malam di bulan Juni. Suasana yang cocok untuk beranjak ke peraduan. Namun, tidak demikian dengan dua puluh (20) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir, yang tampak bergegas mengayunkan langkah menuju ke tempat diselenggarakan pertemuan pendalaman iman rutin lingkungan.

Sebelum pukul tujuh malam, pada hari Kamis tanggal 18 Juni 2026, umat telah berkumpul di rumah Lambertus Tallulembang membawa hati yang terbuka untuk siap diisi dengan pendalam firman. Tepat pukul tujuh Theovilus Suwarto memandu umat mengidungkan lagu pembuka, mengawali ibadat rutin yang dipimpin oleh Prodiakon Theresia Yuliastutie. Injil suci menurut Matius 6: 7-15 dibacakan secara perlahan oleh prodiakon agar umat yang hadir dapat menyimaknya dengan baik. Yesus mengajarkan tentang cara berdoa yang benar, yaitu dengan berdoa Bapa Kami. Doa ini merupakan contoh bagaimana bila kitab isa berkomunikasi dengan Tuhan secara tulus, rendah hati, dan penuh kasih saying. Kita berdoa bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk memperdalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita perlu menyadari bahwa Tuhan selalu bersama kita dalam setiap langkah hidup kita. Kita boleh meminta pertolongan-Nya dan memohon kekutan-Nya dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Setiap umat di LGAK memiliki cara berkomunikasi atau cara berdoa kepada Tuhan. Cara kita berdoa merupakan ungkapan pribadi kepada Tuhan yang tulus dari dalam hati, bukan sekadar formalitas. Apakah kita sudah berdoa dengan baik? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam setiap hati umat, sekaligus sebagai refleksi tentang bagaimana selama ini kita berkomunikasi dengan Tuhan. Satu hal yang pasti, bahwa tidak pernah ada doa yang salah, selama kita melakukannya dengan segenap hati. Di akhir pertemuan, semua umat saling meneguhkan dalam doa agar dapat menjalin komunikasi yang makin baik dengan Tuhan di dalam doa.





