Rm Eko Wahyu, OSC di Malam Pujian dan Kasih:  “Ketaatan kepada Tuhan Mendatangkan Mujizat”

Komsos GMMK – 27 Agust 2026. Malam Pujian dan Kasih bertajuk “Bunda Maria Perantara Rahmat Kasih yang Menyejukkan” yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026 di gedung gereja baru Paroki Maria Marganingsih Kalasan berlangsung semarak, meriah, khusuk sekaligus penuh makna. Ini juga menandakan penggunaan gedung gereja baru Paroki Kalasan untuk pertama kalinya dalam acara resmi yang menghadirkan lebih dari 600 peserta. Peserta, baik dari kalangan umat paroki Kalasan maupun dari kota lain, dengan antusias hadir untuk mendengarkan paparan tentang Maria dari Rm Constantius Eko Wahyu Djoko Santoso, O.S.C.  Acara semakin menarik karena dipandu dengan kocak oleh MC Eko Bebek.

Acara dimulai dengan doa pembuka yang dipandu oleh Jb Sukartono (wakil ketua 2 Dewan Pastoral Paroki Maria Marganingsih Kalasan). Acara kemudian dilanjutkan dengan puji-pujian dengan pilihan lagu bertema pujian kepada Bunda Maria yang dipandu oleh 8 orang dari Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPPKK) Kevikepan Yogyakarta. Dengan tata lampu yang menarik didukung layar digital yang selaras dengan tema lagu, puji-pujian mengantarkan umat kepada permenungan mendalam tentang Bunda Maria.

Sementara itu Agustinus Eko Yunianto selaku ketua panitia acara menyebutkan bahwa acara penggalangan dana ini bukan sekadar upaya mengumpulkan materi, melainkan wujud rasa syukur kita bersama. Kita bersyukur karena rencana mulia untuk membangun rumah Tuhan—Gereja kita—sudah mulai dilaksanakan dan terus berjalan

Lelaki yang dikenal ramah dan lulusan Magister Manajemen Undip Semarang ini juga menjelaskan bahwa gedung gereja memang belum jadi 100% dan fasilitasnya masih sangat terbatas. Namun, bangunan fisik yang belum sempurna ini menjadi bukti nyata dari kerja keras, kerja sama, dan pengorbanan yang luar biasa dari kita semua.

“Meski belum sempurna, kita yakin bahwa apa yang dimulai dengan niat baik dan gotong royong akan disempurnakan oleh Tuhan pada waktu-Nya,” kata Ag Eko Yunianto.

Sedangkan Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr. dalam kata sambutannya juga menyebutkan alasan acara ini diselenggarakan di gedung gereja ini.

“Pertama, kita bersyukur bahwa selama 18 bulan ini, Tuhan menyertai proses pembangunan sampai 70% dengan dukungan doa Bunda Maria,” ucap Romo Dadang di awal sambutan.

Harapannya, umat Paroki Kalasan yang sudah iuran selama 18 bulan masih terus setia memberikan donasi sampai selesai untuk menyelesaikan 30% pembangunan, tentu dengan dukungan donator dari luar juga. Sehingga pada perayaan malam natal tahun ini gedung ini bisa digunakan. Kedua, gedung ini juga menjadi bukti pertanggungjawaban panitia pembangunan gereja bahwa dana yang terkumpul sudah digunakan untuk pembangunan gereja, meskipun baru mencapai 70%.

Romo Dadang juga berharap gedung gereja ini bisa diresmikan oleh Bapa Uskup KAS pada hari Sabtu, 8 Mei 2027 bersamaan dengan pesta pelindung Paroki Kalasan yakni Maria Marganingsih – Maria Pengantara Rahmat, sekaligus peringatan 70 tahun Paroki Kalasan sebagai lembaga.

Sesudah sambutan dari Romo Dadang, kemudian dilanjutkan dengan acara utama yakni pemaparan dari Rm Eko Wahyu OSC. Penjelasan dari romo dari Ordo Salib Suci yang lahir pada 11 Maret 1969 tentang peran dan kedudukan Maria ini dimulai dengan menceritakan kembali kisah mujizat pertama dari Yesus pada pesta perkawinan di Kana dan bagaimana peran Maria dalam peristiwa itu yang diambil dari injil Yohanes.

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah di situ,” ucap Maria kepada para pelayan pesta. Menurut Rm Eko, pernyataan Maria ini menarik karena menandakan ketaatan untuk mendengarkan Tuhan dan melakukannya.

“Ketaatan inilah yang bisa mendatangkan mujizat,” ujar Rm Eko.

Sebagaimana diketahui, figur Maria menjadi sosok yang penting di kalangan umat Katolik. Umat Katolik banyak melakukan devosi kepada Bunda Maria. Maria dan rosario lalu menjadi kekuatan. Romo Eko menegaskan bahwa ketika berdoa rosario kita semestinya berdoa bersama dengan Bunda Maria dengan mengimani Yesus.

Romo Eko kemudian menjelaskan mengapa Bunda Maria disebut sebagai pengantara rahmat. Tentang kedudukan Maria, Rm Eko kemudian merujuk apa dikatakan St. Pius X dan St. Bernardinus.  Dasar untuk memahami adanya peran Bunda Maria dan peran dari setiap anggota Kristus dalam karya Kristus adalah ajaran sabda Allah bahwa Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah Tubuh-Nya (Ef 5:22-33). Sebagai Bunda Kristus, peran Maria adalah unik dan satu-satunya, sehingga digambarkan sebagai leher, yang menghubungkan kepala dan bagian tubuh lainnya. (St. Bernardinus)

Paus St. Pius X mengatakan: “Maria adalah ‘saluran’ atau bahkan leher, yang melaluinya tubuh dihubungkan dengan kepala dan demikian pula, melaluinya kepala mendayagunakan kuasa dan kekuatannya kepada tubuh…

Ya, kata St. Bernardinus dari Siena, ia adalah leher dari Kepala kita, yang dengannya semua karunia rohani disampaikan Yesus kepada Tubuh Mistik-Nya.” Dari penggambaran ini, kita ketahui bahwa Bunda Maria tidak sejajar dengan Yesus, sebab biar bagaimanapun, leher tidak sama dengan kepala. Leher tetaplah termasuk dalam tubuh, namun demikian adalah bagian tubuh yang istimewa, yang terdekat dengan kepala, yang menghubungkan kepala dengan tubuh.

Romo Eko Wahyu kemudian menegaskan bahwa Maria tidak punya berkat, Tuhanlah yang mempunyai berkat. Maria memang sejajar dengan para kudus sebagaimana doa litani para kudus, namun Maria lebih mulia dari pada kudus. Di saat situasi yang tidak mungkin terjadi, Maria bisa menjadi sosok yang membawa rahmat sebagaimana yang terjadi pada pesta perkawinan di Kana.

Rujukan lain yang dijadikan dasar kedudukan dan peran Maria diambil dari Lumen Gentium Art. 54.Tetap berlakulah pandangan-pandangan, yang dalam aliran-aliran Katolik dikemukakan secara bebas tentang Maria, yang dalam Gereja kudus menduduki tempat paling luhur sesudah Kristus dan paling dekat dengan kita.

Bunda Maria memiliki tempat amat istimewa dalam Gereja. “Pada Maria segalanya mengacu kepada Kristus dan tergantung kepadaNya” (Santo Paulus VI – Marialis Cultus 25)

Secara teologis mesti kita pahami bahwa seluruh hidup dan keberadaan Maria, serta seluruh gelar dan penghormatan yang diterimanya melulu karena hubungannya dan hanya karena jasa Putranya, Yesus Kristus.

“Tetapi di antara makhluk ciptaan tidak ada yang mengenal atau mengetahui Kristus secara lebih baik selain Maria. Tidak ada seorang pun yang dapat memperkenalkan kita pada suatu pengetahuan yang mendalam akan misteri hidup Kristus selain daripada Ibu-Nya.” (Rosarium Virginis Mariae art. 14)

Romo Eko menjelaskan bahwa seluruh hidup dan gelar dan kehormatan kepada Maria melulu karena hubungan Maria kepada Yesus dan jasa Yesus kepada Maria. Jadi Maria itu besar karena Yesus, bukan sebaliknya. Dijelaskan pula bahwa beberapa ikon di gereja ortodoks seperti lukisan Maria yang menggendong Yesus menggambarkan tangan Maria yang menunjuk Yesus. Maria seperti ingin mengatakan “Bukan kepadaku tetapi kepada Yesuslah engkau menyembah.”

Maka gereja menegaskan bahwa “Saya menghormati Maria supaya semakin mencintai Tuhan Yesus”.

Romo Eko Wahyu, OSC menyebutkan ada beberapa keistimemaan Bunda Maria. Pertama Maria istimewa karna Rahmat dan Karunia Allah semata. Sapaan Gabriel: “Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai Engkau.” Dikarunia/dipenuhi rahmat/penuh rahmat artinya Maria adalah pribadi yang pertama dan utama sebagai orang yang begitu dicintai dan dikasihi Allah sebelum segala abad.Allah adalah DIA yang ‘berlimpah kasihNya dan setiaNya (Kel. 34:6) Dialah sumber rahmat.

Kedua, rahmat dan karunia Allah ditanggapi oleh Bunda Maria secara utuh dan total dalam iman dan kasih. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” (Luk. 1:38)

Inilah sebabnya mengapa Maria dipandang sebagai pola-teladan bagi seluruh umat dalam menghidupi iman di tengah perjuangan suka-duka kehidupan di dunia ini.

Acara Malam Pujian dan Kasih ditutup dengan adorasi kepada Sakramen Maha Kudus. Suasana di gedung gereja kemudian berubah hening. Sakramen Maha Kudus diarak oleh Rm Antonius Dadang melewati sudut-sudut tempat duduk peserta dan peserta bersujud menyembah, diiringi narasi doa yang teramat khusuk oleh Rm Eko Wahyu yang menyentuh relung hati setiap peserta.

Kiranya acara Malam Pujian dan Kasih ini membawa semua peserta kepada titik kesadaran untuk semakin menghormati Maria agar semakin mencintai Yesus. Mari terus berdoa pula bersama Bunda Maria agar panitia Paroki Maria Marganingsih Kalasan dimampukan untuk menyelesaikan pembangunan gedung gereja baru dengan dukungan tulus dari banyak pihak.  

Bona voluntate inceptum, feliciter finitur  (Yang dimulai dengan niat baik akan berakhir baik)

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *