Katekis, Siapa Takut? Berani Mewartakan, Berani Menghidupi Iman

katekis kalasan

Bukan sekadar mengajar iman, tetapi menghadirkan iman melalui kehidupan

KALASAN — Menjadi katekis bukan sekadar berdiri di depan umat dan menyampaikan materi iman. Seorang katekis dipanggil untuk terus belajar, menghayati iman, mendengarkan, mendampingi, dan memberikan kesaksian hidup. Semangat inilah yang menjadi napas dalam kegiatan Penguatan Kapasitas Katekis bertema “Katekis, Siapa Takut?”

Kegiatan tersebut menjadi ruang pembekalan sekaligus penyegaran bagi para katekis dalam memahami kembali identitas, tugas, dan tanggung jawab mereka dalam karya pewartaan Gereja. Sejak awal ditegaskan bahwa katekis bukan hanya dituntut memiliki pengetahuan iman, tetapi juga mampu menghayatinya serta menghadirkannya melalui kesaksian hidup.

Katekis: Pengetahuan, Penghayatan, dan Kesaksian

Seorang katekis memiliki tugas mewartakan Injil, baik kepada mereka yang belum beriman maupun kepada umat yang telah beriman. Pewartaan itu tidak berhenti pada pengajaran, tetapi berlanjut pada pendampingan dan penghayatan iman.

Karena itu, ada sebuah prinsip sederhana namun mendalam yang menjadi pegangan:

Pengetahuan + Penghayatan + Kesaksian = Pewartaan yang hidup.

Seorang katekis perlu memiliki iman yang cerdas dan bertanggung jawab. Ia harus terus mendalami ajaran iman Katolik, memahami ajaran moral dan tradisi Gereja, serta mampu menyampaikan iman secara baik dan benar. Namun, kecerdasan iman juga membutuhkan kerendahan hati.

Ketika menghadapi pertanyaan yang belum diketahui jawabannya, katekis tidak perlu memaksakan diri. Mencari referensi yang tepat atau berkonsultasi dengan pihak yang lebih kompeten justru merupakan bagian dari tanggung jawab pewarta iman.

Menjadi katekis siapa takut?

Baptis Bukan Garis Akhir

Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam diskusi adalah bahwa pendampingan iman tidak berhenti setelah seseorang menerima sakramen.

Baptis bukanlah akhir dari perjalanan iman, melainkan bagian dari perjalanan hidup bersama Tuhan. Karena itu, pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik bagi calon baptis, keluarga, calon Komuni Pertama, calon Penguatan atau Krisma, orang muda, maupun umat yang membutuhkan pendampingan iman.

Pemahaman ini menjadi penting karena perjalanan iman setiap orang tidak selalu berjalan lurus. Ada saat seseorang mengalami semangat, tetapi ada pula masa ketika ia jatuh dan mengalami pergulatan.

Di sinilah kehadiran katekis menjadi penting: bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menemani.

Dari “Berbicara kepada Umat” Menjadi “Berdialog dengan Umat”

Kegiatan ini juga mengajak para katekis melihat kembali cara melakukan katekese.

Katekese tidak cukup dilakukan dengan metode satu arah. Katekis perlu membuka ruang dialog, memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan berbagi pengalaman, serta menghubungkan materi iman dengan kehidupan nyata.

Dengan demikian, katekis bukan hanya menjadi orang yang pandai berbicara, tetapi juga menjadi pribadi yang mau mendengarkan.

Sebab, setiap umat datang dengan pengalaman, pergumulan, pertanyaan, dan kebutuhan yang berbeda. Katekese menjadi semakin bermakna ketika iman mampu menyentuh kehidupan nyata: keluarga, relasi dengan sesama, kehidupan menggereja, tanggung jawab sosial, hingga keputusan sehari-hari.

Tidak Semua Harus Diselesaikan Sendiri

Dalam pelayanan katekese, katekis dapat berhadapan dengan persoalan yang berada di luar kompetensinya, seperti persoalan sakramen, perkawinan, keluarga yang kompleks, maupun persoalan hukum Gereja.

Dalam situasi seperti itu, katekis tidak harus menyelesaikan semuanya sendiri. Koordinasi dengan Romo/Pastor, tim pendamping, atau pihak yang memiliki kompetensi menjadi bagian penting dari pelayanan.

Sikap ini menunjukkan bahwa pelayanan Gereja bukan pekerjaan individual. Katekis bekerja dalam kesatuan dengan karya pastoral paroki dan dalam koordinasi serta pendampingan Gereja.

Regenerasi untuk Menjaga Api Pewartaan

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kaderisasi. Pelayanan katekese membutuhkan generasi baru yang siap melanjutkan karya pewartaan.

Regenerasi dapat dilakukan melalui pembekalan, pendidikan dan pelatihan, praktik pelayanan, pengembangan kapasitas, hingga evaluasi dan pendampingan.

Kehadiran katekis muda menjadi harapan. Namun, mereka tidak cukup hanya diberi tugas. Mereka perlu ditemani, diarahkan, dan diberi ruang untuk bertumbuh.

Karena itu, kualitas katekis tidak semata-mata diukur dari status atau surat keputusan, tetapi juga dari kesiapan, kompetensi, kesediaan melayani, dan kehidupan imannya.

Katekis, Siapa Takut?

Pada akhirnya, tema “Katekis, Siapa Takut?” terasa bukan sekadar sebuah judul kegiatan. Tema ini menjadi ajakan untuk berani menjawab panggilan sebagai pewarta iman.

Berani terus belajar.

Berani mengakui ketika belum tahu.

Berani mendengarkan.

Berani mendampingi umat dalam suka dan pergulatan.

Berani bekerja bersama.

Dan terutama, berani menjadi kesaksian hidup dari iman yang diwartakan.

Sepuluh pokok penting yang dirangkum dari kegiatan ini menegaskan bahwa “katekis adalah pewarta iman yang perlu terus belajar, melakukan katekese secara dialogal, mendengarkan pengalaman umat, memberikan pendampingan berkelanjutan, mengembangkan regenerasi, serta memahami batas kompetensi dan kewenangannya.”

Sebab pada akhirnya, umat tidak hanya membutuhkan katekis yang pandai menjelaskan iman, tetapi juga membutuhkan katekis yang hidup dalam iman.

Katekis yang cerdas dalam iman, hangat dalam pendampingan, rendah hati untuk terus belajar, dan nyata dalam pelayanan.

Itulah katekis yang tidak hanya mewartakan Kristus dengan kata-kata, tetapi juga menghadirkan Kristus melalui hidupnya. Katekis, Siapa Takut?
Berani dipanggil. Berani belajar. Berani melayani. Berani menjadi saksi.

Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu

Sutanto Prabowo

Father, Teacher, Blogger, Duta Damai BNPT, Indonesia Local Guide, member Komunitas Blogger Jogja, blog : https://maswo.my.id

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *