401 St. Benediktus Perum Pertamina: Menjadi Saksi Kristus yang Nyata Melalui Kepedulian kepada Sesama

Pada hari kamis, 22 Oktober 2026, umat di Lingkungan Benediktus Perum Pertamina berkumpul di rumah keluarga FX. Nawa Drajat (Lilik) untuk melaksanakan pertemuan lingkungan dan Doa Rosario. Pertemuan pada malam itu dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dipandu oleh kelompok tiga yang terdiri dari Chatarina Yohanda Maretta dan Maria Iris Indiramurti. Sekitar 18 umat mengikuti pertemuan pada malam itu dengan khusyuk. Melalui peristiwa-peristiwa Rosario, umat diajak untuk merenungkan kisah penyelamatan Tuhan Yesus Kristus dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Selain merenungkan kisah penyelamatan Tuhan Yesus Kristus, umat juga diajak untuk mengikuti teladan dari Bunda Maria yang dengan rendah hati dan selalu mengikuti kehendak Bapa di Surga.

Kegiatan pada malam hari itu diawali dengan lagu pembukaan dari Madah Bakti No. 542 “Salam Maria” dan dilanjutkan dengan bacaan Injil dari Yohanes 19:25-27. Gereja memberi gelar kepada Bunda Maria “Bunda Berdukacita” yang diperingati setiap tanggal 15 September, sebagai kenangan atas segala bentuk dukacita yang  dialami oleh Santa Perawan Maria semasa hidupnya, terutama ketika menemani Yesus hingga sengsara dan wafat di salib. Bunda Maria setia dalam imannya kepada Allah. Dan sikap Bunda Maria ini berkaitan erat dengan tugas gereja, martiriah, yakni memberikan kesaksian tentang iman kepada Kristus dalam kehidupan kita.

Kesaksian iman bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap hidup. Terutama ketika kita menghadapi penderitaan, kesulitan, ataupun tantangan. Kita diajak seperti Bunda Maria, yakni mampu tetap setia kepada Kristus – berani hadir bagi mereka yang menderita dan melalui kehidupan kita membawa penghiburan serta harapan kepada sesama. Karena itu, ketika kita melihat saudara yang sedang menderita dan kesusahan, kita tidak boleh menjauh atau membiarkan mereka, melainkan kita harus hadir, mendengarkan, menemani, dan memberikan penghiburan. Dengan demikian, hidup kita pun dapat menjadi kesaksian nyata, bahwa kasih Kristus tetap hadir dalam penderitaan manusia. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa rosario, doa pembangunan gereja, dan ditutup dengan doa penutup dan menyanyikan lagu penutup dan Madah Bakti No. 545 “Ratu Rosari”.

Melalui permenungan bacaan Injil (Yohanes 19:25-27) dan keteladanan Bunda Maria sebagai “Bunda Berdukacita”, umat diajak untuk memberikan kesaksian iman (martiriah) dalam wujud nyata—yakni setia dalam menghadapi penderitaan serta berani hadir untuk menemani, menghibur, dan menguatkan sesama yang sedang mengalami kesusahan.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Catharina Novia C

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *