011 Brayat Minulyo Kadirojo II: Memule 100 Hari Meninggalnya Simbah Sudi

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Seratus hari telah lewat sejak kepergian Simbah Sudi, sapaan akrab Zakarias Sudiyono Redjowijoino, sosok yang begitu bersahaja dan penuh kasih di hati umat Lingkungan Brayat Minulyo. Dalam suasana syukur dan rindu yang masih terasa mendalam, keluarga besar almarhum Simbah Sudi mengadakan sembahyangan memule sebagai bentuk doa bersama untuk mengenang dan mendoakan beliau pada hari Sabtu, 12 Juli 2025. Sembahyangan ini dipimpin oleh Prodiakon Dwi Setyo dan dihadiri oleh sekitar 150 umat dari enam lingkungan, tempat dimana anak-anak almarhum kini berdomisili.

Bacaan Injil pada malam itu diambil dari Matius 18:12–14, sebuah perikop indah tentang perumpamaan domba yang hilang. Dikisahkan bahwa seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba rela meninggalkan kesembilan puluh sembilan ekor lainnya demi mencari satu domba yang hilang. Dan ketika akhirnya ia menemukan domba itu, hatinya dipenuhi sukacita yang besar. Demikian pula halnya dengan Tuhan, yang tidak pernah menyerah untuk mencari umat-Nya yang tersesat, dan selalu menyambut mereka kembali dengan kasih yang tak terbatas. Bacaan ini menjadi penghiburan rohani yang kuat, bahwa setiap jiwa begitu berharga di mata Allah.

Simbah Sudi selama hidupnya dikenal sebagai pribadi yang setia dalam iman sejak pertama kali menerima Sakramen Baptis sebagai seorang Katolik. Ia menjalani hidup dengan ketekunan dan meninggalkan warisan rohani yang indah bagi anak cucunya, yakni teladan iman, kesederhanaan, dan kesiapan menyambut panggilan Tuhan. Dalam keyakinan iman yang teguh, kita percaya bahwa Simbah Sudi kini telah berbahagia dalam pelukan kasih Allah Bapa di surga, menikmati kedamaian abadi yang dijanjikan bagi para hamba-Nya yang setia.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Marcus Wisnuhandoko

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *