Tradisi kenduri, genduren atau slametan merupakan warisan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk syukur atau pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hajat atau harapan yang memiliki nilai positif di tengah masyarakat. Gereja Katolik menghargai nilai-nilai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Jawa ini.

Kenduri memperingati 40 (empat puluh) hari meninggalnya Ibu Theresia Mujilah, umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir, dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2025 pukul tiga (3) sore di rumah keluarga Theresia Mujilah. Selain dihadiri anak-anak dan menantu almarhumah, juga dihadiri oleh pengurus inti LGAK. Semua yang hadir menyatukan hati di dalam doa dan ibadat sabda singkat yang dipimpin oleh prodiakon RB Sarbini Ari Purnomo. Dalam ujud doa, dimohonkan berkat kepada Tuhan atas makanan yang akan dibagikan kepada umat lingkungan, kerabat, dan tetangga sekitar. Makanan ini merupakan wujud kasih dan ucapan terima kasih keluarga kepada umat lingkungan, kerabat, dan tetangga telah menjadi bagian dalam hidup almarhumah. Keluarga juga memohon agar umat lingkungan, kerabat, dan tetangga berkenan memaafkan segala salah dan doa almarhumah semasa hidupnya, selanjutnya berkenan mendoakan agar arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Mahakasih. Selanjutnya, semoga hal-hal baik yang telah dilakukan almarhumah dapat menjadi warisan baik yang bermanfaat bagi semua yang ditinggalkan.

Rangkaian doa kenduri berakhir pada pukul 15.30 WIB dilanjutkan dengan membagikan berkat makanan kepada umat dan kerabat yang hadir. Sementara itu, bagi tetangga sekitar diantar oleh anak-anak muda kampung yang berbeda keyakinan dengan penuh sukacita. Mereka tampak sigap dan kompak. Sebuah sikap yang mencerminkan solidaritas dan kerukunan antar-umat beragama.





